Jeviar duduk di sambil menggenggam
erat kepalanya dengan kedua tangannya, mencoba berfikir hal apa yang akan
dilakukannya pada ulangtahun mantan pacarnya yang sampai saat ini masih
diharapkan lagi kehadirannya, Syair. Mulanya Jeviar menganggap itu sebuah hal
yang akan dijadikan permulaan untuk mendekatkan lagi dirinya dengan Syair,
mengajak Syair bicara. Meminta Syair untuk sepenuhnya mendengar jerit batinnya
yang tersayat, meminta Syair untuk bisa tetap berdiri dan memberi satu kepastian
dari cintanya yang pernah dimintanya untuk pergi dengan sebuah bantingan gelas
kaca.
“BODOH BODOH BODOH” teriakan Jeviar
seperti bergema dalam ruang kamarnya yang luas, begitu juga dengan hentakan
keras tangannya pada permukaan meja, teriakan yang membuatnya kelelahan,
seketika juga membuatnya terisak, menangis sejadi-jadinya, ia menyesali
keputusannya itu, meminta Syair untuk pergi hanya karena dirinya termakan oleh
emosi sesaat, yang dia lupakan adalah sifat wanita memang pencemburu dan
terkadang selalu ingin dipahami, Jeviar seperti kehilangan kendali kala itu, saat
dimana Syair menangis dihadapannya, mencoba mengutarakan isi hatinya yang sudah
beberapa saat ini selalu di tinggal oleh Jeviar dengan kesibukannya, Jeviar
yang mulanya selalu bisa mengatasi gadisnya yang kini bukan lagi menjadi
gadisnya, mengerti apa yang di mau, seketika tidak menyangka dengan dirinya
sendiri yang seperti kemasukan roh, dengan telapak tangan yang hampir
menghantam pipi kiri Syair, saat itu Jeiar langsung mengalihkan pandang dan
mengucap kalimat perpisahan, lalu meminta Syair
untuk meninggalkan dirinya, semua dilakukannya tanpa melihat wajah
Syair, yang ia tahu Syair telah pergi meninggalkannya juah dan penyesalan itu
baru dirasanya belakangan ini.
Dalam lipatan kedua tangannya yang
menjadi sandaran kepalanya diatas meja, Jeviar berfikir juga berharap Syair
bisa mendengar keluhnya atau Nasha.
Atau Nasha!?
Jeviar mengangkat kepalanya, saat
menemukan lampu kamar yang terang menusuk penglihatannya, ia mencoba bangun dan
berbaring di tempat tidurnya, ia kaget dengan apa yang diucapnya dalam hati, ia
ingin Nasha juga mendengar keluhnya “Siapa Nasha? Dia sahabat Syair, bukan
perempuan yang gue inginkan, yang gue inginkan hanya Syair, bukan Nasha” bisikan
begitu teras berbunyi dalam hatinya yang perlahan berjalan ke otaknya, mencoba
mengingat sebuah peristiwa beberapa hari yang lalu.
Nasha mendatangi rumahnya dan
mengajaknya makan siang, yang difikirkannya saat itu hanya mengajak
untuk mengisi kekosongan, namun nyatanya ada yang ingin diungkapkan oleh Nasha
saat itu.
“Kok elo ngajak gue makan disini?”
tanya Jeviar
“Lho? Kenapa? Elo ngga suka ya?”
sahut Nasha santai
“Ini tempat pertama kali gue ngajak
Syair makan dan...”
“Duduk dulu, Jev” tawar Nasha
memotong kalimat Jeviar
“Elo pasti tau tempat ini
sebelumnya, kan?” tanya Jeviar serius
“Iya..”
“Dari Syair?” ganti Jeviar yang
memotong kalimatnya “Kapan dia cerita?” pertanyaan yang seolah mengajak kedua
bola mata Nasha menatap dirinya.
“Waktu elo baru jadian sama dia”
jawab Nasha santai, jawaban itu memang benar, Syair pernah menceritakan tempat
ini, tempat pertama kali Jeviar dengan berani menggandeng tangan Syair di depan
banyak pasang mata.
“Oh, udah lama ya” raut wajahnya
lesu, tak lagi bergairah seperti tadi
“Elo masih berharap Syair balik?”
“Selalu” jawabnya tandas, singkat
juga yakin.
“Kalau dia setengah mati untuk terus
menghindar dari elo?”
“Bukan masalah, gue masih bisa
ngejar..”
“Masih bisa ngejar? Sampai kapan?
Syair udah ngga cinta sama elo, Jev” potong Nasha dengan nada tegas.
“Gue tau, sangat tau. Tapi gue belum
bisa untuk sepenuhnya melepas dia”
“Elo masih merasa kesepian?”
“Thanks, Nas. Elo uda mau ngisi
hari-hari gue..”
“Jadi elo mulai mengerti maksud
gue?”
“Maksud elo? Maksud yang mana?”
Jeviar mengerutkan dahinya
“Gue ngga mau elo terus begini, elo
seperti pecundang, sadar dong ini semua berasal darimana? Dari elo!” telunjuk
Nasha lurus tertuju pada bola mata Jeviar “Elo harusnya bisa paham posisi
Syair, dia terlalu sakit dan ngga mau terulang lagi”
“Elo kenapa jadi nyalahin gue?
Harusnya elo bantuin gue, Nas”
“Gue ngga akan bantuin elo, sebelum
elo menyadari” kalimatnya terpenggal, Nasha merasakan kalimatnya terhenti di
tenggorokan “Sebelum elo sadar, apa maksud gue nemenin elo selama ini”
“Untuk ngilangin rasa sepi gue dan
bisa mempertemukan gue dengan Syair” Sahut Jeviar penuh yakin
“Mungkin untuk membuat elo melupakan
Syair atau mungkin bisa menggantikan Syair” Kalimatnya yang awalnya terdengar
dengan nada yang keras, lalu mengecil. Nasha menundukkan kepala, Jeviar terpana
sesaat, lalu mencoba menatap mata Nasha.
“Jadi..” Jeviar berusaha menatap
wajah Nasha yang tertunduk
“Kenapa Syair yang udah pergi selalu
elo pahami geraknya? Bilang sama gue kalo elo ngga pernah nyaman bersama gue,
bilang!” kalimat Nasha terdengar amat lirih, Jeviar melihat sekeliling, mencoba
untuk menyembunyikan percakapan itu dari orang banyak.
Jeviar terdiam, dia tidak bisa
mengucap kalimat itu. Karena sesungguhnya dirinya merasa mulai nyaman dengan
Nasha dan perlahan bisa memasuki dunianya, begitupun dengan dirinya yang juga
selalu ingin memperkenalkan Nasha pada tim basketnya, mengajak Nasha untuk
menyaksikan pertandingannya, itu semua hanya sebuah pergorbanan Nasha untuk
menghilangkan rasa sepi nya, namun Nasha mengaggap itu semua bukan yang biasa.
Bagaimana bisa? Dirinya masih
percaya bahwa kelak Syair bisa memaafkannya dan perlahan bisa lagi merangkul
gadis itu ke dalam pelukannya yang setengah mati merindukan mantan pacarnya.
Bisa dibilang Nasha kelewat gila, Syair adalah sahabatnya, lantas kenapa Nasha
bisa mengambil sikap demikian?.
Nasha tak mungkin bersikap seperti
itu tanpa sebuah alasan, apakah benar Syair udah cukup tersakiti? Apakah benar
Syair sudah bisa melupakan semuanya? Apakah benar Syair menganggap dirinya
hanya mantan yang bila di ingat peristiwa perpisahannya hanya mengundang sakit? Otak Jeviar berkomentar hebat antara kanan dan kiri.
Jeviar tak tahu apa yang harus dia
lakukan, memilih Nasha atau tetap mengejar Syair, namun mengejar Syair pun
dirinya butuh seorang Nasha dan jika dirinya memilih Nasha, bagaimana dengan
Syair? Bisa-bisa gadis itu tak menganggapnya sebagai mantan pacar dan juga tak
menganggap Nasha sebagai sahabatnya.
Dia nyaman bersama Nasha, hadirnya
Nasha dalam beberapa hari ini cukup membahagiakannya, teramat nyaman. Namun disisi
lain langkahnya masih pada tujuannya, yaitu Syair. Masih berharap Syair bisa
menerimanya dan jika Syair belum mau menerimanya, dia butuh Nasha untuk
mendengar jeritnya, butuh keduanya dalam waktu yang berbeda. Butuh.
Ukie Efandari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar