Hidup ini seperti artikel tentang cinta, tanpa cinta hidupmu MAYA, dengan cinta hidupmu NYATA...


Bila tak banyak cerita dalam hidupmu, paling tidak satu telah terukir di atas daun, ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Jumat, 29 Maret 2013

Dia atau Dirinya





            Jeviar duduk di sambil menggenggam erat kepalanya dengan kedua tangannya, mencoba berfikir hal apa yang akan dilakukannya pada ulangtahun mantan pacarnya yang sampai saat ini masih diharapkan lagi kehadirannya, Syair. Mulanya Jeviar menganggap itu sebuah hal yang akan dijadikan permulaan untuk mendekatkan lagi dirinya dengan Syair, mengajak Syair bicara. Meminta Syair untuk sepenuhnya mendengar jerit batinnya yang tersayat, meminta Syair untuk bisa tetap berdiri dan memberi satu kepastian dari cintanya yang pernah dimintanya untuk pergi dengan sebuah bantingan gelas kaca.

            “BODOH BODOH BODOH” teriakan Jeviar seperti bergema dalam ruang kamarnya yang luas, begitu juga dengan hentakan keras tangannya pada permukaan meja, teriakan yang membuatnya kelelahan, seketika juga membuatnya terisak, menangis sejadi-jadinya, ia menyesali keputusannya itu, meminta Syair untuk pergi hanya karena dirinya termakan oleh emosi sesaat, yang dia lupakan adalah sifat wanita memang pencemburu dan terkadang selalu ingin dipahami, Jeviar seperti kehilangan kendali kala itu, saat dimana Syair menangis dihadapannya, mencoba mengutarakan isi hatinya yang sudah beberapa saat ini selalu di tinggal oleh Jeviar dengan kesibukannya, Jeviar yang mulanya selalu bisa mengatasi gadisnya yang kini bukan lagi menjadi gadisnya, mengerti apa yang di mau, seketika tidak menyangka dengan dirinya sendiri yang seperti kemasukan roh, dengan telapak tangan yang hampir menghantam pipi kiri Syair, saat itu Jeiar langsung mengalihkan pandang dan mengucap kalimat perpisahan, lalu meminta Syair  untuk meninggalkan dirinya, semua dilakukannya tanpa melihat wajah Syair, yang ia tahu Syair telah pergi meninggalkannya juah dan penyesalan itu baru dirasanya belakangan ini.

            Dalam lipatan kedua tangannya yang menjadi sandaran kepalanya diatas meja, Jeviar berfikir juga berharap Syair bisa mendengar keluhnya atau Nasha.

            Atau Nasha!?

            Jeviar mengangkat kepalanya, saat menemukan lampu kamar yang terang menusuk penglihatannya, ia mencoba bangun dan berbaring di tempat tidurnya, ia kaget dengan apa yang diucapnya dalam hati, ia ingin Nasha juga mendengar keluhnya “Siapa Nasha? Dia sahabat Syair, bukan perempuan yang gue inginkan, yang gue inginkan hanya Syair, bukan Nasha” bisikan begitu teras berbunyi dalam hatinya yang perlahan berjalan ke otaknya, mencoba mengingat sebuah peristiwa beberapa hari yang lalu.

            Nasha mendatangi rumahnya dan mengajaknya makan siang, yang difikirkannya saat itu hanya mengajak untuk mengisi kekosongan, namun nyatanya ada yang ingin diungkapkan oleh Nasha saat itu.

            “Kok elo ngajak gue makan disini?” tanya Jeviar

            “Lho? Kenapa? Elo ngga suka ya?” sahut Nasha santai

            “Ini tempat pertama kali gue ngajak Syair makan dan...”

            “Duduk dulu, Jev” tawar Nasha memotong kalimat Jeviar

            “Elo pasti tau tempat ini sebelumnya, kan?” tanya Jeviar serius

            “Iya..”

            “Dari Syair?” ganti Jeviar yang memotong kalimatnya “Kapan dia cerita?” pertanyaan yang seolah mengajak kedua bola mata Nasha menatap dirinya.

            “Waktu elo baru jadian sama dia” jawab Nasha santai, jawaban itu memang benar, Syair pernah menceritakan tempat ini, tempat pertama kali Jeviar dengan berani menggandeng tangan Syair di depan banyak pasang mata.

            “Oh, udah lama ya” raut wajahnya lesu, tak lagi bergairah seperti tadi

            “Elo masih berharap Syair balik?”

            “Selalu” jawabnya tandas, singkat juga yakin.

            “Kalau dia setengah mati untuk terus menghindar dari elo?”

            “Bukan masalah, gue masih bisa ngejar..”

            “Masih bisa ngejar? Sampai kapan? Syair udah ngga cinta sama elo, Jev” potong Nasha dengan nada tegas.

            “Gue tau, sangat tau. Tapi gue belum bisa untuk sepenuhnya melepas dia”

            “Elo masih merasa kesepian?”

            “Thanks, Nas. Elo uda mau ngisi hari-hari gue..”

            “Jadi elo mulai mengerti maksud gue?”

            “Maksud elo? Maksud yang mana?” Jeviar mengerutkan dahinya

            “Gue ngga mau elo terus begini, elo seperti pecundang, sadar dong ini semua berasal darimana? Dari elo!” telunjuk Nasha lurus tertuju pada bola mata Jeviar “Elo harusnya bisa paham posisi Syair, dia terlalu sakit dan ngga mau terulang lagi”

            “Elo kenapa jadi nyalahin gue? Harusnya elo bantuin gue, Nas”

            “Gue ngga akan bantuin elo, sebelum elo menyadari” kalimatnya terpenggal, Nasha merasakan kalimatnya terhenti di tenggorokan “Sebelum elo sadar, apa maksud gue nemenin elo selama ini”

            “Untuk ngilangin rasa sepi gue dan bisa mempertemukan gue dengan Syair” Sahut Jeviar penuh yakin

            “Mungkin untuk membuat elo melupakan Syair atau mungkin bisa menggantikan Syair” Kalimatnya yang awalnya terdengar dengan nada yang keras, lalu mengecil. Nasha menundukkan kepala, Jeviar terpana sesaat, lalu mencoba menatap mata Nasha.

            “Jadi..” Jeviar berusaha menatap wajah Nasha yang tertunduk

            “Kenapa Syair yang udah pergi selalu elo pahami geraknya? Bilang sama gue kalo elo ngga pernah nyaman bersama gue, bilang!” kalimat Nasha terdengar amat lirih, Jeviar melihat sekeliling, mencoba untuk menyembunyikan percakapan itu dari orang banyak.

            Jeviar terdiam, dia tidak bisa mengucap kalimat itu. Karena sesungguhnya dirinya merasa mulai nyaman dengan Nasha dan perlahan bisa memasuki dunianya, begitupun dengan dirinya yang juga selalu ingin memperkenalkan Nasha pada tim basketnya, mengajak Nasha untuk menyaksikan pertandingannya, itu semua hanya sebuah pergorbanan Nasha untuk menghilangkan rasa sepi nya, namun Nasha mengaggap itu semua bukan yang biasa.

            Bagaimana bisa? Dirinya masih percaya bahwa kelak Syair bisa memaafkannya dan perlahan bisa lagi merangkul gadis itu ke dalam pelukannya yang setengah mati merindukan mantan pacarnya. Bisa dibilang Nasha kelewat gila, Syair adalah sahabatnya, lantas kenapa Nasha bisa mengambil sikap demikian?.

            Nasha tak mungkin bersikap seperti itu tanpa sebuah alasan, apakah benar Syair udah cukup tersakiti? Apakah benar Syair sudah bisa melupakan semuanya? Apakah benar Syair menganggap dirinya hanya mantan yang bila di ingat peristiwa perpisahannya hanya mengundang sakit? Otak Jeviar berkomentar hebat antara kanan dan kiri.

            Jeviar tak tahu apa yang harus dia lakukan, memilih Nasha atau tetap mengejar Syair, namun mengejar Syair pun dirinya butuh seorang Nasha dan jika dirinya memilih Nasha, bagaimana dengan Syair? Bisa-bisa gadis itu tak menganggapnya sebagai mantan pacar dan juga tak menganggap Nasha sebagai sahabatnya.

            Dia nyaman bersama Nasha, hadirnya Nasha dalam beberapa hari ini cukup membahagiakannya, teramat nyaman. Namun disisi lain langkahnya masih pada tujuannya, yaitu Syair. Masih berharap Syair bisa menerimanya dan jika Syair belum mau menerimanya, dia butuh Nasha untuk mendengar jeritnya, butuh keduanya dalam waktu yang berbeda. Butuh.




Ukie Efandari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar