Petang yang teramat gila
Segala warna kuning di langitnya juga angin
sorenya mengantarkan rasa kantukku yang juga semakin gila
Menari indah mendorong perlahan kelopak
mataku
Masih kucoba untuk tetap membaca daftar
perpuatakaan Indonesia
Di belakang supir, aku duduk dengan mata yang
sejenak memandang semua pengisi bangku angkutan umum ini
Aku menikmati angin yang yang diantar hujan
rintik yang manis
Aku biasa menyebutnya hujann seperti inilah
hujannya para pengarang buku
Karena bagiku segala ketenangan berasal dari
suara air yang mengalir, dari manapun ia mengalir, menciptakan suasana indah
Aku menyandarkan kepalaku setelah ku tutup
bukuku
Aku memejamkan mata perlahan, lalu terdengar
sebuah suara gesekan
Masih ku acuhkan..
Dan suara satu petik gitar menyentil
telingaku, seketika membuatku membuka mata
Oh pengamen cilik
Aku meliriknya, seorang bocah kecil yang
duduk dipinggit pintu tepat berhadapan denganku
Kausnya basah juga kumal, juga gitar
kecilnya yang amat kusam
Masih ku lirik wajahnya, ia memandang ke
atas, entah apa yang di pandang aku tak perlu tahu
Masih diperhatikannya air hujan itu
Lalu mulai di petik digitarnya dan...
Terhenti
Wajahnya kembali medongak..
Satu petikan lagi, lalu terpenggal.. Lagi
KIni pandangnya kemabila kepada airmata
langit, lebih lama
Aku masih diam ditempatku. Menyaksikannya..
Seperti bocah ini tak mampu mendendangkan
nada sedang air hujan terus mengguyur wajahnya
Lalu dipetiknya lagi, kini terdengar lebih
jelas dan lama..
“Tuhan yang Maha Satu, aku ingin dicinta”
Aku menyipitkan mata tanpa sadar, mencoba
untuk serius setelah bait pertama
“Aku
manusia juga punya cinta
Aku
manusia juga milik cinta”
Aku mencoba menyimaknya lebih, padanganku
berpindah ke ujung sepatuku
“Meski menjalani hari memikirkan pangan penuh
resah
Tidur beralaskan butir coklat tanah
Tempat dimana tubuh melepas lelah merebah”
Dan padanganku berpindah lagi, terlihat
samar saat aku mencoba menatap kendaraan diluar melalui kaca mobil yang telah
basah, kembali kusandarkan kepalaku..
“Dalam hening malam bersimpuh berusaha
menghadapkan wajah
Meminta cinta pada Tuhan ditengah malam gelisah
Memohon ampun atas segala salah”
Dan mataku terpejam, seraya semilir ikut
mendinginkan batin ini, teramat dingin menusuk tulang
“Tuhan yang Maha Bijaksana, bukankah cinta
milik manusia
Tuhan yang Maha Bijaksana, bukankah semua manusia layak dicinta”
Selesai, suara uang logam terdengar di
telingaku, masih ku rapatkan kelopak kedua mataku, aku tak ingin membukanya
sebelum bocah itu pergi..
Bukan aku tak ingin menghargainya
Namun aku ingin mengucap lagi lirik itu dalam hatiku tanpa harus lebih dulu
melihat wajah bocah itu yang sedari tadi bernyayi membelakangiku.
Lirik yang ku dengar dengan nada sederhana
juga musik yang begitu adanya, memang sebuah lirik.
Lirik atau suara hati dari mereka yang merasa
tak punta cinta..
Tak punya cinta?
Bukankah cinta milik semua manusia?
Sungguh petang yang amat gila, bisa
meledakan jeritku dalam hati penuh gema
Hanya aku yang mendengar, hanya aku..
Bocah itu...
Ukie
Efandari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar