Hidup ini seperti artikel tentang cinta, tanpa cinta hidupmu MAYA, dengan cinta hidupmu NYATA...


Bila tak banyak cerita dalam hidupmu, paling tidak satu telah terukir di atas daun, ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Jumat, 19 April 2013

Petang...




Petang yang teramat gila
Segala warna kuning di langitnya juga angin sorenya mengantarkan rasa kantukku yang juga semakin gila
Menari indah mendorong perlahan kelopak mataku
Masih kucoba untuk tetap membaca daftar perpuatakaan Indonesia
Di belakang supir, aku duduk dengan mata yang sejenak memandang semua pengisi bangku angkutan umum ini
Aku menikmati angin yang yang diantar hujan rintik yang manis
Aku biasa menyebutnya hujann seperti inilah hujannya para pengarang buku
Karena bagiku segala ketenangan berasal dari suara air yang mengalir, dari manapun ia mengalir, menciptakan suasana indah
Aku menyandarkan kepalaku setelah ku tutup bukuku
Aku memejamkan mata perlahan, lalu terdengar sebuah suara gesekan
Masih ku acuhkan..
Dan suara satu petik gitar menyentil telingaku, seketika membuatku membuka mata
Oh pengamen cilik
Aku meliriknya, seorang bocah kecil yang duduk dipinggit pintu tepat berhadapan denganku
Kausnya basah juga kumal, juga gitar kecilnya yang amat kusam
Masih ku lirik wajahnya, ia memandang ke atas, entah apa yang di pandang aku tak perlu tahu
Masih diperhatikannya air hujan itu
Lalu mulai di petik digitarnya dan... Terhenti
Wajahnya kembali medongak..
Satu petikan lagi, lalu terpenggal.. Lagi
KIni pandangnya kemabila kepada airmata langit, lebih lama
Aku masih diam ditempatku. Menyaksikannya..
Seperti bocah ini tak mampu mendendangkan nada sedang air hujan terus mengguyur wajahnya
Lalu dipetiknya lagi, kini terdengar lebih jelas dan lama..

Tuhan yang Maha Satu, aku ingin dicinta
Aku menyipitkan mata tanpa sadar, mencoba untuk serius setelah bait pertama

 “Aku manusia juga punya cinta
   Aku manusia juga milik cinta
Aku mencoba menyimaknya lebih, padanganku berpindah ke ujung sepatuku

                “Meski menjalani hari memikirkan pangan penuh resah
                  Tidur beralaskan butir coklat tanah
                  Tempat dimana tubuh melepas lelah merebah
Dan padanganku berpindah lagi, terlihat samar saat aku mencoba menatap kendaraan diluar melalui kaca mobil yang telah basah, kembali kusandarkan kepalaku..

                “Dalam hening malam bersimpuh berusaha menghadapkan wajah
                  Meminta cinta pada Tuhan ditengah malam gelisah
  Memohon ampun atas segala salah
Dan mataku terpejam, seraya semilir ikut mendinginkan batin ini, teramat dingin menusuk tulang

                “Tuhan yang Maha Bijaksana, bukankah cinta milik manusia
                  Tuhan yang Maha Bijaksana, bukankah semua manusia layak dicinta
Selesai, suara uang logam terdengar di telingaku, masih ku rapatkan kelopak kedua mataku, aku tak ingin membukanya sebelum bocah itu pergi..
Bukan aku tak ingin menghargainya
Namun aku ingin mengucap lagi  lirik itu dalam hatiku tanpa harus lebih dulu melihat wajah bocah itu yang sedari tadi bernyayi membelakangiku.
Lirik yang ku dengar dengan nada sederhana juga musik yang begitu adanya, memang sebuah lirik.
Lirik atau suara hati dari mereka yang merasa tak punta cinta..
Tak punya cinta?
Bukankah cinta milik semua manusia?
Sungguh petang yang amat gila, bisa meledakan jeritku dalam hati penuh gema
Hanya aku yang  mendengar, hanya aku..
Bocah itu...



Ukie Efandari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar