Bunga
Jika sebuah hidup harus kau katakan seperti setangkai
bunga
Bisa di tafsirkan bila tangkainya adalah awal,
semakin kau memulai semakin tinggi
menjuntai
Jalan yang kau lalui sama hal nya dengan segala macam
saraf dalam tangkainya, semakin teguh niatmu, semakin liar sarafnya.
Berjalan melalui banyak waktu..
Saat mulai rintik, lalu gerimis manis, gemuruh perlahan,
lalu deras, dan hujan badai
Semua itu nyata, semua itu ada..
Juga hidupmu,..
Sebut hujan itu sebuah halang rintang
Banyak kekuatan dalam setiap tetes airnya, menyeruak kecil
mulanya, menumbuhkan ketangguhan lanjutnya..
Tanpa halang rintang dirimu tertinggal jauh oleh angan
Tanpa air hujan ia pun merunduk perlahan, mengering,
menguning dan berguguran..
Atau jika sebuah cinta harus dikatakan seperti setangkai
bunga
Dari malu bersapa mulanya lalu tersenyum enggan terpaksa
seadanya
Lalu memberanikan diri bertanya nama...
Lalu bunga?
Cinta sejati lah yang patut dsebut bunga. Cinta bukan rasa
suka
Rela gugur demi mengindahkan suasana, rela berkorban atas
nama cinta
Cinta sejati bak setangkai bunga
Hanya cinta sejati yang bisa di bilang seperti hal nya
bunga
Catatan: Tulisan ini di tuliskan untuk tetangga saya atas
permintaanya, dia adalah Lutviana Sari
Ukie Efandari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar