Sania berdiri mematung
tepat di depan ruang kelas XI.7, maksud kedatangannya sama seperti hari-hari
sebelumnya yakni untuk mengajak Raga pulang bersama, seperti saat sebuah hujan
menghantam secara tiba-tiba suatu siang yang sunyi bagi Sania, dia berjalan ke
pintu gerbang dengan berlari kecil setelah mengetahui bahwa huhan siang itu
masih berupa gelagat dan langkahnya semakin cepat saat hujan semakin “jahat”,
tiba-tiba telingannya menangkap sebuah suara, namun di acuhkannya, sampai
akhirnya sebuah sepeda motor berjalan pelan di samping kirinya “San, bareng
yuk, nanti elo sakit” suara itu mengagetkannya
“Elo?” Sania masih tidak percaya
dengan apa yang di lihatnya. Seorang bintang sepak bola di sekolahnya dengan
segala atribut yang dimilkinya, wajah tampan, badan tinggi, kuiltnya yang
kekuningan, mata yang bulat, agak pendiam dan misterius, di gilai banyak wanita
karena itu tadi.. Dia tak banyak tingkah, sehingga banyak wanita yang ingin
tahu tentang dirinya lebih, pintar dalam segala macam mata pelajaran, terkenal
baik juga santun, selain itu dia anak tunggal dari ke dua orang tuanya yang
seolah balapan mengejar karir mereka masing-masing.
“Ayo, san” ajaknya lagi. Wajahnya
bersinar saat air hujan menguyur wajahnya, semakin terlihat bagus rupanya,
tergambar jelas baik hatinya, juga terlukis rata perhatiannya semua begitu
nyata dalam sorot matanya. Raga
“Iya iya” sahut Sania sambil berjalan
dan menaiki sepeda motor Raga, jelas saja Sania tidak bisa menolaknya, Sania
tidak pernah memintanya untuk kenal dengan Raga, Raga yang datang kepada
dirinya, kalau ini bisa menjadi kebiasaan nantinya, pasti bisa juga jadi semakin dekat, tutur Sania dalam hatinya
dengan senyum manis di bibirnya.
“Rumah elo dimana? Kok ngga bawa
mobil?”
“Deket kok, Ga. Di belakang perumahan
Batu Dermaga, elo mau nganter gue sampe rumah?”
“Jelas, tanggung jawab dong, tadi kan
gue yang nawarin, mobil elo kemana?”
“Gue males bawa mobi, Ga. Rumah deket
jalan juga bisa”
“Wiiih, gitu dong, biar mandiri,
sambil olahraga San” Kini tawa Raga terlihat jelas di kaca spion, Sania yang
memandangnya dengan jiwa yang seakan dibawa Raga melayang tinggi, Raga
memujinya, padahal jawabannya itu salah, dia sudah tidak di perbolehkan lagi
membawa mobil ke sekolah, karena jam pulang sekolahnya jadi tidak menentu,
bahkan pernah sampai setelah magrib, membuat keluarganya gusar dengan kelakuan
Sania.
Namun bagi Sania itu hanyalah sebuah
kebohongan yang secuil, agar bisa mendapatkan hati Raga, dia berfikir jika baru
jalan berdua dengannya Raga sudah merasa nyaman ,dijadikannya itu sebuah langkah
awal untuk bisa menjadikan dirinya seseorang yang berdiri tegak menghiasi
dinding hati Raga yang masih dingin dan kosong tak terisi oleh siapapun dan
siapapun juga punya hak untuk berusaha mendapatkan tempat dalam ruang yang
masih hampa itu.
Tetapi satu yang Sania lupakan, seakan
harapannya muncul hanya karena tawaran Raga siang itu, Raga terkenal baik oleh
siapapun terlebih pada seorang wanita, saat melihat dirinya berlari sedirian
dibawah hujan jelas Raga mau menolongnya hanya untuk mengantar pulang karena
dirinya teman satu sekolah juga Raga mengenalnya. Raga tidak mudah di taklukan,
juga tak bisa dikejar, hanya menjadi usaha sia-sia, bila di taklukan semakin
liar dirinya, bila di kejar semaki cepat langkahnya, Raga menganggap semua
wanita yang suka padanya hanya sebuah rasa suka belaka, tidak sampai hati
apalgi mampu bersikap setia, apa yang
bisa di harapakan dari seorang wanita yang suka mengejar laki-laki? Tidak ada.
Perempuan tugasnya membenahi diri menjadi wanita cantik jasmani juga rohaninya,
urusan cinta biarlah laki-laki yang mengejar dirinya, biarlah laki-laki yang
memperjuangkannya, begitu pemikiran Raga, hebat, Kan? Di era seperti ini ada
laki-laki yang bisa berfikir bahwa yang lebih punya hak untuk mengejar cinta
adalah laki-laki, wanita hanya punya hak untuk menerima, menerima ya tarik
dirinya, tidak menerima ya tunggu sampai ada yang mengejar lagi. Itu saja. Itu
yang Sania lupakan, dia terlena oleh peristiwa siang itu.
“Ga” tarikkan tangan Sania mengagetkan
Raga dari kerumunan teman-temannya yang baru saja mengusaikan pelajaran
terakhir
“Hey, ada apa?” sahut Raga santai
“Mau pulang bareng ngga? Sekalian
temenin gue makan siang, di pertigaan jalan, ada tempat makan baru, asik banget
tempatnya, elo harus coba, Ga” ujar Sania dengan riang, Raga sedikit
meliriknya, mencoba untuk menebak maksud apa yang terisrat dalam benak Sania.
“Gue mau latihan bareng sama
temen-temen, gimana dong?” diangkat kedua bahunya
“Oh yaa? Kalo gitu gue temenin elo
latihan deh” tawaran Sania semaki
membabi buta, membuat Raga mengehela nafas pelan mencari alasan.
“Gue bareng Riski, San. Kebetulan hari
ini dia ngga bawa kendaraan, sebenernya sih udah janjian dari kemaren, duluan
ya, bye” Sania menatap wajah Raga
yang berjalan melewati tubuhnya dan satu tarikan lagi menghempaskan tuubuh Raga
ke belakang.
“Kalo ada waktu kita bisa jalan lagi,
Kan?” tanya Sania dengan senyum manis di bibirnya, namun Raga hanya terseyum
dan berlalu tanpa bersuara sedikitpun.
Dalam langkahnya Raga menggelengkan
kepala samar, ini dia yang dia tak suka, dirinya hanya menolong saat Sania
terdesak siang itu, bukan untuk member kesempatan. Dirinya memang tak bisa
membentak wanita atau mecaci walau sedikit atau sepelan apapun, wanita terlalu
lemah dengan bentakkan, sekali di bentak bisa langsung sensitif hatinya. Bagi
Raga, wanita memang kadang susah untuk mengerti tapi selalu ingin dimengerti,
bahasa itulah yang menjadi salah satu perbedaan kami sang adam dan mereka sang
rusuk. Namun bukan dibentak atau melayangkan tangan, cukup memperlihatkan apa
yang seharusnya dipahami oleh banyak wanita tentang hidup seseorang, kewajiban
dalam hidup laki-laki bukan hanya memerhatikan juga membahagiakan wanitanya,
wanita lebih berperasaan dan perlahan akan mengertii maksdu itu. Hanya itu.Kurang
apa si cowok ini? Baik, suka menolong, dewasa pulak.
Sudah empat hari setelah persitiwa
siang itu Sania jadi sering datang ke kelasnya, bahkan saat Raga sedang duduk
memerhatikan apa yang di ucapkan oleh
paniti di acara “Simak Jurnalis”, Sania sampai rela berjalan sendirian hanya
untuk duduk disamping dirinya, sedang
puluhan pasang mata memerhatikannya, ada yang tertawa, ada yang beranggapan
tidak punya sopan santun, benar-benar memalukan. Namun Raga menjawab hangat
sapaan Sania tak lupa juga dengan senyum, padahal hatinya habis-habisan menahan
malu.
Juga pada saat Sania mendadak ingin
ditemani ke sebuah pesta tahunan di pusat kota dan Raga menolaknya dengan
alasan ingin ke toko buku, akhirnya Sania mengalah dan lebih memilih untuk
menemani Raga ke toko buku. Juga pada saat Raga membaca sebuah buku “Football
and Poetry” atau sedang berjalan ke
kasir dengan membawa buku “Belajar berpuitis”, tiba –tiba tubuh Sania menyambar
ke hadapannya membawa majalah wanita yang tidak dimengerti oleh Raga juga meminta
pendapat bagaimana Sania harus tampil selalu cantik di depan matanya “Cukup
diam dan ngga macem-macem” tutur Raga santai sambil berjalan ke luar toko buku,
Sania tidak memerdulikannya, yang dia tahu Raga sudah mau memberi saran untuknya,
walau dirinya tak menyerap sedikitpun maksud saran itu.
Ukie
Efandari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar