Hidup ini seperti artikel tentang cinta, tanpa cinta hidupmu MAYA, dengan cinta hidupmu NYATA...


Bila tak banyak cerita dalam hidupmu, paling tidak satu telah terukir di atas daun, ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Sabtu, 09 Maret 2013

Bukan Aku





                Sania berdiri mematung tepat di depan ruang kelas XI.7, maksud kedatangannya sama seperti hari-hari sebelumnya yakni untuk mengajak Raga pulang bersama, seperti saat sebuah hujan menghantam secara tiba-tiba suatu siang yang sunyi bagi Sania, dia berjalan ke pintu gerbang dengan berlari kecil setelah mengetahui bahwa huhan siang itu masih berupa gelagat dan langkahnya semakin cepat saat hujan semakin “jahat”, tiba-tiba telingannya menangkap sebuah suara, namun di acuhkannya, sampai akhirnya sebuah sepeda motor berjalan pelan di samping kirinya “San, bareng yuk, nanti elo sakit” suara itu mengagetkannya
          “Elo?” Sania masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Seorang bintang sepak bola di sekolahnya dengan segala atribut yang dimilkinya, wajah tampan, badan tinggi, kuiltnya yang kekuningan, mata yang bulat, agak pendiam dan misterius, di gilai banyak wanita karena itu tadi.. Dia tak banyak tingkah, sehingga banyak wanita yang ingin tahu tentang dirinya lebih, pintar dalam segala macam mata pelajaran, terkenal baik juga santun, selain itu dia anak tunggal dari ke dua orang tuanya yang seolah balapan mengejar karir mereka masing-masing.
          “Ayo, san” ajaknya lagi. Wajahnya bersinar saat air hujan menguyur wajahnya, semakin terlihat bagus rupanya, tergambar jelas baik hatinya, juga terlukis rata perhatiannya semua begitu nyata dalam sorot matanya. Raga
          “Iya iya” sahut Sania sambil berjalan dan menaiki sepeda motor Raga, jelas saja Sania tidak bisa menolaknya, Sania tidak pernah memintanya untuk kenal dengan Raga, Raga yang datang kepada dirinya, kalau ini bisa menjadi kebiasaan nantinya, pasti bisa juga  jadi semakin dekat, tutur Sania dalam hatinya dengan senyum manis di bibirnya.
          “Rumah elo dimana? Kok ngga bawa mobil?”
          “Deket kok, Ga. Di belakang perumahan Batu Dermaga, elo mau nganter gue sampe rumah?”
          “Jelas, tanggung jawab dong, tadi kan gue yang nawarin, mobil elo kemana?”
          “Gue males bawa mobi, Ga. Rumah deket jalan juga bisa”
          “Wiiih, gitu dong, biar mandiri, sambil olahraga San” Kini tawa Raga terlihat jelas di kaca spion, Sania yang memandangnya dengan jiwa yang seakan dibawa Raga melayang tinggi, Raga memujinya, padahal jawabannya itu salah, dia sudah tidak di perbolehkan lagi membawa mobil ke sekolah, karena jam pulang sekolahnya jadi tidak menentu, bahkan pernah sampai setelah magrib, membuat keluarganya gusar dengan kelakuan Sania.
          Namun bagi Sania itu hanyalah sebuah kebohongan yang secuil, agar bisa mendapatkan hati Raga, dia berfikir jika baru jalan berdua dengannya Raga sudah merasa nyaman ,dijadikannya itu sebuah langkah awal untuk bisa menjadikan dirinya seseorang yang berdiri tegak menghiasi dinding hati Raga yang masih dingin dan kosong tak terisi oleh siapapun dan siapapun juga punya hak untuk berusaha mendapatkan tempat dalam ruang yang masih hampa itu.
          Tetapi satu yang Sania lupakan, seakan harapannya muncul hanya karena tawaran Raga siang itu, Raga terkenal baik oleh siapapun terlebih pada seorang wanita, saat melihat dirinya berlari sedirian dibawah hujan jelas Raga mau menolongnya hanya untuk mengantar pulang karena dirinya teman satu sekolah juga Raga mengenalnya. Raga tidak mudah di taklukan, juga tak bisa dikejar, hanya menjadi usaha sia-sia, bila di taklukan semakin liar dirinya, bila di kejar semaki cepat langkahnya, Raga menganggap semua wanita yang suka padanya hanya sebuah rasa suka belaka, tidak sampai hati apalgi mampu bersikap setia, apa  yang bisa di harapakan dari seorang wanita yang suka mengejar laki-laki? Tidak ada. Perempuan tugasnya membenahi diri menjadi wanita cantik jasmani juga rohaninya, urusan cinta biarlah laki-laki yang mengejar dirinya, biarlah laki-laki yang memperjuangkannya, begitu pemikiran Raga, hebat, Kan? Di era seperti ini ada laki-laki yang bisa berfikir bahwa yang lebih punya hak untuk mengejar cinta adalah laki-laki, wanita hanya punya hak untuk menerima, menerima ya tarik dirinya, tidak menerima ya tunggu sampai ada yang mengejar lagi. Itu saja. Itu yang Sania lupakan, dia terlena oleh peristiwa siang itu.
          “Ga” tarikkan tangan Sania mengagetkan Raga dari kerumunan teman-temannya yang baru saja mengusaikan pelajaran terakhir
          “Hey, ada apa?” sahut Raga santai
          “Mau pulang bareng ngga? Sekalian temenin gue makan siang, di pertigaan jalan, ada tempat makan baru, asik banget tempatnya, elo harus coba, Ga” ujar Sania dengan riang, Raga sedikit meliriknya, mencoba untuk menebak maksud apa yang terisrat dalam benak Sania.
          “Gue mau latihan bareng sama temen-temen, gimana dong?” diangkat kedua bahunya
          “Oh yaa? Kalo gitu gue temenin elo latihan deh” tawaran Sania semaki  membabi buta, membuat Raga mengehela nafas pelan mencari alasan.
          “Gue bareng Riski, San. Kebetulan hari ini dia ngga bawa kendaraan, sebenernya sih udah janjian dari kemaren, duluan ya, bye” Sania menatap wajah Raga yang berjalan melewati tubuhnya dan satu tarikan lagi menghempaskan tuubuh Raga ke belakang.
          “Kalo ada waktu kita bisa jalan lagi, Kan?” tanya Sania dengan senyum manis di bibirnya, namun Raga hanya terseyum dan berlalu tanpa bersuara sedikitpun.
          Dalam langkahnya Raga menggelengkan kepala samar, ini dia yang dia tak suka, dirinya hanya menolong saat Sania terdesak siang itu, bukan untuk member kesempatan. Dirinya memang tak bisa membentak wanita atau mecaci walau sedikit atau sepelan apapun, wanita terlalu lemah dengan bentakkan, sekali di bentak bisa langsung sensitif hatinya. Bagi Raga, wanita memang kadang susah untuk mengerti tapi selalu ingin dimengerti, bahasa itulah yang menjadi salah satu perbedaan kami sang adam dan mereka sang rusuk. Namun bukan dibentak atau melayangkan tangan, cukup memperlihatkan apa yang seharusnya dipahami oleh banyak wanita tentang hidup seseorang, kewajiban dalam hidup laki-laki bukan hanya memerhatikan juga membahagiakan wanitanya, wanita lebih berperasaan dan perlahan akan mengertii maksdu itu. Hanya itu.Kurang apa si cowok ini? Baik, suka menolong, dewasa pulak.
          Sudah empat hari setelah persitiwa siang itu Sania jadi sering datang ke kelasnya, bahkan saat Raga sedang duduk memerhatikan apa yang  di ucapkan oleh paniti di acara “Simak Jurnalis”, Sania sampai rela berjalan sendirian hanya untuk  duduk disamping dirinya, sedang puluhan pasang mata memerhatikannya, ada yang tertawa, ada yang beranggapan tidak punya sopan santun, benar-benar memalukan. Namun Raga menjawab hangat sapaan Sania tak lupa juga dengan senyum, padahal hatinya habis-habisan menahan malu.
          Juga pada saat Sania mendadak ingin ditemani ke sebuah pesta tahunan di pusat kota dan Raga menolaknya dengan alasan ingin ke toko buku, akhirnya Sania mengalah dan lebih memilih untuk menemani Raga ke toko buku. Juga pada saat Raga membaca sebuah buku “Football and Poetry” atau  sedang berjalan ke kasir dengan membawa buku “Belajar berpuitis”, tiba –tiba tubuh Sania menyambar ke hadapannya membawa majalah wanita yang tidak dimengerti oleh Raga juga meminta pendapat bagaimana Sania harus tampil selalu cantik di depan matanya “Cukup diam dan ngga macem-macem” tutur Raga santai sambil berjalan ke luar toko buku, Sania tidak memerdulikannya, yang dia tahu Raga sudah mau memberi saran untuknya, walau dirinya tak menyerap sedikitpun maksud saran itu.



Ukie Efandari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar