Rere
masih memekik di depan pintu ruang siarannya, berkali-kali bola matanya
bergantian menatap tangga juga jam tangannya, menunggu seseorang yang hari ini
sangat di tunggu kedatangannya, hari ini pengumuman pemenang kuis yang akan
disiarkan satu jam lagi, berkali-kali kakinya dihentakkan keras ke lantai,
sesekali berdecak kesal “Kemana sih Ragian?” batinnya mengeluh penuh emosi,
sudah hampir dua jam dirinya berdiri kadang duduk atau kadang bersandar di
dinding, sampai saat putus asanya tak bisa mengalah, ia memutuskan untuk keluar
kantor dan menunggu di luar.
“Bungaa”
sebuah tarikkan lembut di lengannya membuatnya megap sesaat, hanya sesaat, lalu
kekagetannya berubah menjadi sebuah amarah.
“Gi,
kemana ajah sih? Lihat jam berapa ini!” suaranya menggelegar, membuat semua
orang disekitar mereka menoleh mencari tahu, di tunjukkan jam tangannya pada
manik mata Ragian “Daan, apa tadi? Bunga?” Siapa sih bunga itu, Gi?”
“Bunga
itu elo” potong Ragian dengan suara yang hampir membentak, sesaat membuat Rere
terdiam.
“Gue
Rere, lama-lama elo itu makin aneh deh, Gi..”
“Elo
yang aneh, Re. Elo!” kini kalimat sudah menusuk gendang telinganya, Rere tidak
menyangka, pagi yang amat tidak biasa dari pagi-pagi yang lalu jika sedang
menunggu Ragian ditempat itu.
“Gue
aneh? Elo itu udah datang telat, Gi. Gue nunggu elo hampir tiga jam disini,
sendirian. Elo aneh!” satu kalimat akhir juga sebuah tatapan mata yang tajam
serta gerakkan langkah kaki Rere yang membalikkan badan, beranjak pergi.
“Kenapa
elo ngga pernah tanya dimana gue? Atau sedikit ajah elo berfikr kalau gue
datang terlambat itu bisa ajah gue kenapa-kenapa?” suaranya menyambar bersamaan
genggaman tangannya yang erat menahan lengan Rere “Gue ngga pernah telat, elo
yang selalu telat, Re” kini matanya memerah, terlihat jelas dalam pandangan
lurus bola mata Rere yang tengah memandangnya dengan rasa bingung juga sisa
kemarahan.
“Gue?”
telunjuk Rere lurus menunjuk dadanya sendiri.
“Gue
selalu datang awal, selalu! Dan elo ngga pernah tau itu, gue pernah datang awal
dan saat itu gue telfon elo, berharap elo minta di jemput, ternyata engga” raut
wajahnya memudar, kepalanya menunduk, suaranya menipis, seperti kelelahan. Rere
merasakan genggaman tanga Ragian perlahan terlepas dari lengannnya, seolah ikut
merasakan nestapa hatinya, Rere membeku di tempatnya, tidak ada kemampuan untuk
melarikan diri, dia ingin disini, mencari tahu apa yang membuat Ragian berubah
dan jadi sering memanggilnya dengan sebutan “bunga”. Berkali-kali Rere bertanya
pada hatinya sendiri “Siapa bunga? Kenapa dia panggil gue bunga?”
“Gue
selalu datang lebih awal, berharap bisa jemput elo dirumah, ternyata elo cuma nganggap
gue sebagai teman yang hanya duduk disamping bangku siaran, jam siarannya pun
hanya lima jam, gue datang selalu awal dengan setangkai bunga” matanya menatap
penuh dalam keterpanaan Rere kala itu “Bunga yang ada di meja itu dari gue buat
elo, gue mau bunga itu gue berikan ke elo saat elo masih dirumah”
“Bunga
itu dari elo?” potong Rere kaget juga tak menyangka
“Iya”
kedua tangannya bergerak dan perlahan mengamit tangan Rere juga menggenggamnya
lembut “Dan akhirnya gue memutuskan untuk pergi sampai elo dateng, elo dateng
pun ngga pernah nanya gue dimana atau gue lagi ngapain atau gue kenapa bisa
telat ataau..” kalimatnya terpenggal, di pejamkan matanya, makin dirasa keluh
batinnya, penuh luka, penuh kecewa.
“Kenapa
gue bisa lewat begitu ajah?” tanya Rere, serak dan merasa bersalah.
“Ataau
elo bisa bangunin gue dari tidur saat elo telfon gue dan gue berpura-pura ngaku
baru bangun tidur padahal gue lah yang pagi-pagi selalu naruh bunga di meja
siaran kita... Bunga” kata terakhir yang di ucap Ragian sontak membuat Rere
menundukkan kepala, berupaya menyembunyikan rasa malu juga bersalahnya, bisa
dirasakan sepasang bola mata Ragian tengah memandangnya teduh, teduh dalam ketidakberdayaan
juga kepasrahan, teduh yang menyimpan satu harapan nyata, juga teduh yang di
isi oleh oleh kelegaan jiwa.
Aku bisa memanggilnya “Bunga” kapanpun aku
mau, tanpa dirinya tahu bahwa bunga itu tanda cintaku untuknya, nyata..
Ukie
efandari
Catatan: Tulisan ini permintaan dari Lutviana Sari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar