Hidup ini seperti artikel tentang cinta, tanpa cinta hidupmu MAYA, dengan cinta hidupmu NYATA...


Bila tak banyak cerita dalam hidupmu, paling tidak satu telah terukir di atas daun, ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Sabtu, 16 Maret 2013

Dia yang ku panggil "Bunga"

 


          Rere masih memekik di depan pintu ruang siarannya, berkali-kali bola matanya bergantian menatap tangga juga jam tangannya, menunggu seseorang yang hari ini sangat di tunggu kedatangannya, hari ini pengumuman pemenang kuis yang akan disiarkan satu jam lagi, berkali-kali kakinya dihentakkan keras ke lantai, sesekali berdecak kesal “Kemana sih Ragian?” batinnya mengeluh penuh emosi, sudah hampir dua jam dirinya berdiri kadang duduk atau kadang bersandar di dinding, sampai saat putus asanya tak bisa mengalah, ia memutuskan untuk keluar kantor dan menunggu di luar.

            “Bungaa” sebuah tarikkan lembut di lengannya membuatnya megap sesaat, hanya sesaat, lalu kekagetannya berubah menjadi sebuah amarah.

            “Gi, kemana ajah sih? Lihat jam berapa ini!” suaranya menggelegar, membuat semua orang disekitar mereka menoleh mencari tahu, di tunjukkan jam tangannya pada manik mata Ragian “Daan, apa tadi? Bunga?” Siapa sih bunga itu, Gi?”

            “Bunga itu elo” potong Ragian dengan suara yang hampir membentak, sesaat membuat Rere terdiam.

            “Gue Rere, lama-lama elo itu makin aneh deh, Gi..”

            “Elo yang aneh, Re. Elo!” kini kalimat sudah menusuk gendang telinganya, Rere tidak menyangka, pagi yang amat tidak biasa dari pagi-pagi yang lalu jika sedang menunggu Ragian ditempat itu.

            “Gue aneh? Elo itu udah datang telat, Gi. Gue nunggu elo hampir tiga jam disini, sendirian. Elo aneh!” satu kalimat akhir juga sebuah tatapan mata yang tajam serta gerakkan langkah kaki Rere yang membalikkan badan, beranjak pergi.

            “Kenapa elo ngga pernah tanya dimana gue? Atau sedikit ajah elo berfikr kalau gue datang terlambat itu bisa ajah gue kenapa-kenapa?” suaranya menyambar bersamaan genggaman tangannya yang erat menahan lengan Rere “Gue ngga pernah telat, elo yang selalu telat, Re” kini matanya memerah, terlihat jelas dalam pandangan lurus bola mata Rere yang tengah memandangnya dengan rasa bingung juga sisa kemarahan.

            “Gue?” telunjuk Rere lurus menunjuk dadanya sendiri.

            “Gue selalu datang awal, selalu! Dan elo ngga pernah tau itu, gue pernah datang awal dan saat itu gue telfon elo, berharap elo minta di jemput, ternyata engga” raut wajahnya memudar, kepalanya menunduk, suaranya menipis, seperti kelelahan. Rere merasakan genggaman tanga Ragian perlahan terlepas dari lengannnya, seolah ikut merasakan nestapa hatinya, Rere membeku di tempatnya, tidak ada kemampuan untuk melarikan diri, dia ingin disini, mencari tahu apa yang membuat Ragian berubah dan jadi sering memanggilnya dengan sebutan “bunga”. Berkali-kali Rere bertanya pada hatinya sendiri “Siapa bunga? Kenapa dia panggil gue bunga?”

            “Gue selalu datang lebih awal, berharap bisa jemput elo dirumah, ternyata elo cuma nganggap gue sebagai teman yang hanya duduk disamping bangku siaran, jam siarannya pun hanya lima jam, gue datang selalu awal dengan setangkai bunga” matanya menatap penuh dalam keterpanaan Rere kala itu “Bunga yang ada di meja itu dari gue buat elo, gue mau bunga itu gue berikan ke elo saat elo masih dirumah”

            “Bunga itu dari elo?” potong Rere kaget juga tak menyangka

            “Iya” kedua tangannya bergerak dan perlahan mengamit tangan Rere juga menggenggamnya lembut “Dan akhirnya gue memutuskan untuk pergi sampai elo dateng, elo dateng pun ngga pernah nanya gue dimana atau gue lagi ngapain atau gue kenapa bisa telat ataau..” kalimatnya terpenggal, di pejamkan matanya, makin dirasa keluh batinnya, penuh luka, penuh kecewa.

            “Kenapa gue bisa lewat begitu ajah?” tanya Rere, serak dan merasa bersalah.

            “Ataau elo bisa bangunin gue dari tidur saat elo telfon gue dan gue berpura-pura ngaku baru bangun tidur padahal gue lah yang pagi-pagi selalu naruh bunga di meja siaran kita... Bunga” kata terakhir yang di ucap Ragian sontak membuat Rere menundukkan kepala, berupaya menyembunyikan rasa malu juga bersalahnya, bisa dirasakan sepasang bola mata Ragian tengah memandangnya teduh, teduh dalam ketidakberdayaan juga kepasrahan, teduh yang menyimpan satu harapan nyata, juga teduh yang di isi oleh oleh kelegaan jiwa.


Aku bisa memanggilnya “Bunga” kapanpun aku mau, tanpa dirinya tahu bahwa bunga itu tanda cintaku untuknya, nyata..


Ukie efandari


Catatan: Tulisan ini  permintaan dari Lutviana Sari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar