Hidup ini seperti artikel tentang cinta, tanpa cinta hidupmu MAYA, dengan cinta hidupmu NYATA...


Bila tak banyak cerita dalam hidupmu, paling tidak satu telah terukir di atas daun, ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Minggu, 25 Januari 2015

Terbalas




                Jika bertemu cinta, sapa lah dia, siapa tau dibalas olehnya. Seisi rumah ini siapa yang tidak tahu tingkah laku Azzahra, gadis manis tapi urakan, kadang cerdas kadang sering kebingungan, kalau mulai bicara bukan lagi “omongan” yang kerap disebut tapi berubah jadi “ocehan”, bocah cantik tapi gila, suka menantang tetapi jika ditantang dia malah mengacuhkan.

                “Lif, kamu ngga bosen jomblo?” Ujar Azzahra ditengah jam makan siang bersama sepupunya, Kalifah “Hampir setiap hari makan siang bareng aku, ke kampus sendirian  atau ngga sama Sabrina, terus kalo keluar rumah sama Ummi, kalo ngga ya sendiri, terus…”

                “Emangnya kamu punya pacar?” Potong Kalifah kesal sambil mengunyah halus makanan yang ada didalam mulutnya, Azzahra kebingungan, keduanya memang tidak begitu doyan dengan laki-laki, Ummi dan Abah dulu, urusan laki-laki bisa belakangan, demikian mereka jawab jika ditanya kemana pacarnya? 

                “Hmm.. Kalo aku mah…”

                “Apa? urusan laki-laki belakangan? Ah klise! Intinya kamu juga ngga punya pacar alias jomblo”  genap sudah kekalahan Azzahra, dirinya memilih diam “Tapi kamu masih inget pengirim bunga itu, kan?” ledek Kalifah, yang diledek mendadak meradang.

                “Aduuuuh, jangan ngomongin bunga, aku alergi sama bunga” Tegas Azzahra, di acuhkannya Kalifah.

                “Alergi sama bunganya?” Kalifah melirik sambil tersenyum “Atau sama pengirimnya?” Belum dijawab sudah disambar lagi.

                “Kenapa laki-laki bisa kaya gitu ya, Lif?”

                “Di balik sikap laki-laki yang seperti itu, tau ngga kamu? Kalo kamu itu istimewa di matanya, makanya memperlakukan kamu se istimewa mungkin, perempuan harus tau caranya bagaimana di istimewakan, biar kita tau bagaimana harus membalasnya” Azzahra terdiam, dirinya ingat, dulu pernah mengatakan kalimat yang sama kepada Kalifah dan Sabrina, tapi kenapa siang ini dirinya seperti bodoh.

                “Tapi yang kamu harus tau, Lif. Dia pernah mencoba untuk memilih kita” Azzahra mulai serius “Ah ralat, maksudnya dia pernah minta di jodohkan salah satu dari Aku, kamu dan Sabrina, terus seenaknya bilang, kalo ngga cocok bisa pilih yang lain, inget ngga sih, kamu?”

                “Inget kok” Kalifah mengangguk santai “Itu kan dulu, Zah. Sekarang tujuannya ada pada kamu” telunjuk Kalifah menunjuk Azzahra “Kalo dia pemilih, dia ngga bakal milih kamu”

                “Kok gitu? Kening Azzahra mengkerut seketika.

                “Ya iya dong, cewek cuek yang kebiasaannya ngga jelas kaya kamu itu jadi bahan pertimbangan laki-laki untuk deketinnya” Azzahra menatap Kalifah dengan bola mata yang nyaris keluar dari kelopaknya. Di gelengkan kepalanya sambil menatap Kalifah yang tertawa geli. Hilang sudah nafsu makannya siang ini “Untuk memilih perempuan yang susah diatur kaya kamu itu harus berfikir dua kali, ada yang lain yang memperlakukan kamu lebih dari apa yang dia lakukan ke kamu?” Kini Kalifah serius, bola matanya lurus menatap sepasang manik mata Azzahra, yang ditanya hanya menggeleng lemas.

                “Kayaknya kamu salah orang deh, Lif. Harusnya kamu bicara kaya gini ke Sabrina, bukan ke aku, Sabrina lebih bisa peka dan mengerti dengan cerita yang berisi tentang laki-laki”

                “Justru karena kamu kurang paham, jadi harus aku kasih tau. Zah, belajar untuk menghargai makhluk Tuhan yang bisa memberikan waktunya hanya  untuk makhluk Tuhan yang lainnya” Azzahra hanya bisa memaku, bibirnya keluh untuk menjawab, sepasang matanya enggan menatap Kalifah. Selebihnya Azzahra bukan gadis yang bodoh, fikirannya kadang kelewat pendek namun tingkahnya kelewat ceroboh, apa saja di singkirkan, bila sudah mulai kalah siapapun yang mengaalahkan tentu saja keluar menjadi seorang juara.

                Tanpa di sadari, keduanya sedang menjadi pengawasan sepasang mata yang berdiri sambil mencoba mendekat, seorang laki-laki yang sengaja membuntuti mereka, karena salah satu dari mereka adalah tawanannya yang sudah lama menghilang, jelas kesempatan ini langsung di manfaatkannya.

                “Lif, semua perempuan wajib diperlakukan istimewa?”

                “Ngga wajib, tapi di atas batas layak, sangat layak” Kalifah tersenyum sambil mematap Azzahra.

                “Kalifah” Sebuah suara berat terdengar di telinga kedua nya, sontak keduanya kaget dan seketika menoleh hampir bersamaan, begitu Kalifah mendapati siapa pemilik suara itu, dirinya kikuk, mencoba menerka, lalu kembali menatap Azzahra seolah bertanya siapa gerangan, yang diberi kode membalas lagi dengan kode.

                Kalifah beranjak dari kursinya, kini dirinya dan pemuda itu berhadapan, Kalifah masih mencoba mengingat namun kenapa dada nya berdebar hebat, seperti kita pernah bertemu, tapi dimanaa? Dan ah kamu siapa? Azzahra menatap kedua nya bingung, ingin menarik Kalifah untuk pergi dari tempat ini tapi kalau di lihat-lihat perisitiwa seperti ini tidak jauh berbeda dengan seorang tentara yang sudah lama tidak pulang ke rumah, saat pulang ke rumah dan bertemu istrinya raut wajahnya tidak jauh beda dengan Kalifah dan pemuda ini, lho? Bisa jadi dia copet yang coba-coba menghipnotis lewat tatap mata, Azzahra mulai gusar, kini dirinya yang beranjak, belum juga menuntaskan maksudnya, si pemuda itu mengeluarkan suaranya lagi.

                “Selamat pagi, Kalifah” Ah ya ampuuun, Kalifah menelan ludah, dirinya baru ingat, pemuda ini adalah ksatria bergitar yang hampir setiap pagi mengucapkan kalimat itu pada Kalifah. Azzahra justru malah kepalang bingung, disambar keduanya.

                “Selamat pagi? Udah jam dua nih” Ungkap Azzahra polos sambil melihat jam tangannya. Duuuh Azzahra. Keluh Kalifah dalam batin.

                “Kamu makhluk Tuhan, kan?” Kalifah baru ingat lagi, terakhir bertemu pemuda itu saat ditinggal sendiri di halte lalu dalam hati dirinya menjawab “Selamat malam, makhluk Tuhan tanpa nama” yang ditanya hanya diam, lagi-lagi Azzahra menyambar.

                “Emang disini ada yang lain? Selain makhluk Tuhan? Alien? Siluman?” Keduanya menoleh menatap Azzahra dengan tatapan yang susah di artikan.

                “Kemana ajah, dia?” Pemuda itu bertanya pada Azzahra, sambil menunjuk Kalifah. Yang ditanya ikut menunjuk Kalifah.

                “Dia?” Kini semua telunjuk mengarah pada Kalifah.

                “Sudah  hampir dua bulan ini dia ngga muncul di halte” Kening Azzahra mengkerut, Kalifah bergerak meraih tas nya dan tas milik Azzahra, lalu di tariknya lengah Azzahra untuk meninggalkan tempat ini. Azzahra seolah terhipnotis, tapi masih dengan rasa bingung juga penasaran.

                “Kita harus cepet-cepet cari angkutan umum, Zah”

                “Sebentar sebentaar” Azzahra menahan langkah Kalifah, lalu kedua nya berhenti, Kalifah mencoba memastikan bahwa pemuda itu tidak mengejar mereka “Aku bingung deh, dialog kalian tadi itu ngomongin apasih?”

                “Aku jelasin sambil jalan yah” di rangkulnya bahu Azzahra “dia itu kaya makhluk halus, tiba-tiba muncul gitu, kamu ngga kaget?”

                “Makhluk halus atau makhluk Tuhan?” Kalifah mengehela nafas.

                “Laki-laki itu yang pernah maki-maki aku di halte kota, depan orang banyak”

                “Yang berantem sama pacarnya sampe cakar-cakaran?”

                “Cuma cekcok mulut, Zah. Kamu ini apa sih” Sahut Kalifah gemes

                “Yang setiap pagi bawa gitar, kan? Kok tadi dia ngga bawa gitar yah?” Azzahra selalu bisa buat keadaan makin kisruh, di tengoknya lagi ke belakang.

                “Iya itu dia yang setiap pagi selalu nyamperin aku di halte kota, semenjak selesai UAS aku ngga pernah ketemu dia lagi, karena jam kuliahku berubah”

                “Aaa pantes ajah tadi dia nanyain kamu, berarti dia masih sering nungguin kamu di halte, ih kok serem banget sih, maksudnya apa?”

                “Aku juga ngga ngerti, Zah. Laki-laki kok bisa kaya gitu, ya?”

                “Itu berarti kamu istimewa, pernah ada yang nunggu lebih lama di banding dia?” Pertanyaan Azzahra seolah menjadi pisau yang barusan menusuk Azzahra kini berbalik menusuknya, Kalifah tidak mampu menjawab.

                “Untuk mengejar perempuan seperti kamu itu ngga mudah, Lif. Perempuan dingin yang sukar kenal dengan laki-laki, pilihan untuk menunggu kamu itu aku rasa adalah cara seseorang memperlakukan kamu dengan istimewa”

                “Lif, aku ngga kenal dia, dia siapa aku ngga tau”

                “Justru karena kamu ngga kenal, dia bersabar untuk mengenal kamu, ngga pernah ya kamu melihat isi dari ucapan selamat pagi?” Kalifah terdiam, dirinya pernah mencoba berbic ara dengan pemuda itu, tapi selalu menjadi cerita yang bersambung hingga saat ini, setelah waktu panjang memisahkan, akhirnya cerita itu tersambung lagi. Haruskah dirinya menanggapi perintah Azzahra? Kenapa laki-laki bisa seperti demikian? Karena kamu istimewa. Bisakah kamu melihat wajah seseorang dalam setangkai bunga, Azzahra? Bisakah kamu mendengar lebih dalam suara seseorang yang mengucapkan selamat pagi, Kalifah?

                Jika ada cinta, sapa lah dia, barangkali dibalas. Jika ada suara, dengarlah ia, siapa tahu memanggilmu.



Ukie Efandari

1 komentar: