Jika
bertemu cinta, sapa lah dia, siapa tau dibalas olehnya. Seisi rumah ini siapa
yang tidak tahu tingkah laku Azzahra, gadis manis tapi urakan, kadang cerdas
kadang sering kebingungan, kalau mulai bicara bukan lagi “omongan” yang kerap
disebut tapi berubah jadi “ocehan”, bocah cantik tapi gila, suka menantang
tetapi jika ditantang dia malah mengacuhkan.
“Lif,
kamu ngga bosen jomblo?” Ujar Azzahra ditengah jam makan siang bersama
sepupunya, Kalifah “Hampir setiap hari makan siang bareng aku, ke kampus
sendirian atau ngga sama Sabrina, terus
kalo keluar rumah sama Ummi, kalo ngga ya sendiri, terus…”
“Emangnya
kamu punya pacar?” Potong Kalifah kesal sambil mengunyah halus makanan yang ada
didalam mulutnya, Azzahra kebingungan, keduanya memang tidak begitu doyan dengan
laki-laki, Ummi dan Abah dulu, urusan laki-laki bisa belakangan, demikian
mereka jawab jika ditanya kemana pacarnya?
“Hmm..
Kalo aku mah…”
“Apa?
urusan laki-laki belakangan? Ah klise! Intinya kamu juga ngga punya pacar alias
jomblo” genap sudah kekalahan Azzahra,
dirinya memilih diam “Tapi kamu masih inget pengirim bunga itu, kan?” ledek
Kalifah, yang diledek mendadak meradang.
“Aduuuuh,
jangan ngomongin bunga, aku alergi sama bunga” Tegas Azzahra, di acuhkannya
Kalifah.
“Alergi
sama bunganya?” Kalifah melirik sambil tersenyum “Atau sama pengirimnya?” Belum
dijawab sudah disambar lagi.
“Kenapa
laki-laki bisa kaya gitu ya, Lif?”
“Di
balik sikap laki-laki yang seperti itu, tau ngga kamu? Kalo kamu itu istimewa
di matanya, makanya memperlakukan kamu se istimewa mungkin, perempuan harus tau
caranya bagaimana di istimewakan, biar kita tau bagaimana harus membalasnya”
Azzahra terdiam, dirinya ingat, dulu pernah mengatakan kalimat yang sama kepada
Kalifah dan Sabrina, tapi kenapa siang ini dirinya seperti bodoh.
“Tapi yang
kamu harus tau, Lif. Dia pernah mencoba untuk memilih kita” Azzahra mulai
serius “Ah ralat, maksudnya dia pernah minta di jodohkan salah satu dari Aku,
kamu dan Sabrina, terus seenaknya bilang, kalo ngga cocok bisa pilih yang lain,
inget ngga sih, kamu?”
“Inget
kok” Kalifah mengangguk santai “Itu kan dulu, Zah. Sekarang tujuannya ada pada
kamu” telunjuk Kalifah menunjuk Azzahra “Kalo dia pemilih, dia ngga bakal milih
kamu”
“Kok
gitu? Kening Azzahra mengkerut seketika.
“Ya iya
dong, cewek cuek yang kebiasaannya ngga jelas kaya kamu itu jadi bahan
pertimbangan laki-laki untuk deketinnya” Azzahra menatap Kalifah dengan bola
mata yang nyaris keluar dari kelopaknya. Di gelengkan kepalanya sambil menatap
Kalifah yang tertawa geli. Hilang sudah nafsu makannya siang ini “Untuk memilih
perempuan yang susah diatur kaya kamu itu harus berfikir dua kali, ada yang
lain yang memperlakukan kamu lebih dari apa yang dia lakukan ke kamu?” Kini
Kalifah serius, bola matanya lurus menatap sepasang manik mata Azzahra, yang
ditanya hanya menggeleng lemas.
“Kayaknya
kamu salah orang deh, Lif. Harusnya kamu bicara kaya gini ke Sabrina, bukan ke
aku, Sabrina lebih bisa peka dan mengerti dengan cerita yang berisi tentang
laki-laki”
“Justru
karena kamu kurang paham, jadi harus aku kasih tau. Zah, belajar untuk
menghargai makhluk Tuhan yang bisa memberikan waktunya hanya untuk makhluk Tuhan yang lainnya” Azzahra
hanya bisa memaku, bibirnya keluh untuk menjawab, sepasang matanya enggan
menatap Kalifah. Selebihnya Azzahra bukan gadis yang bodoh, fikirannya kadang
kelewat pendek namun tingkahnya kelewat ceroboh, apa saja di singkirkan, bila
sudah mulai kalah siapapun yang mengaalahkan tentu saja keluar menjadi seorang
juara.
Tanpa
di sadari, keduanya sedang menjadi pengawasan sepasang mata yang berdiri sambil
mencoba mendekat, seorang laki-laki yang sengaja membuntuti mereka, karena
salah satu dari mereka adalah tawanannya yang sudah lama menghilang, jelas
kesempatan ini langsung di manfaatkannya.
“Lif,
semua perempuan wajib diperlakukan istimewa?”
“Ngga
wajib, tapi di atas batas layak, sangat layak” Kalifah tersenyum sambil mematap
Azzahra.
“Kalifah”
Sebuah suara berat terdengar di telinga kedua nya, sontak keduanya kaget dan
seketika menoleh hampir bersamaan, begitu Kalifah mendapati siapa pemilik suara
itu, dirinya kikuk, mencoba menerka, lalu kembali menatap Azzahra seolah
bertanya siapa gerangan, yang diberi kode membalas lagi dengan kode.
Kalifah
beranjak dari kursinya, kini dirinya dan pemuda itu berhadapan, Kalifah masih
mencoba mengingat namun kenapa dada nya berdebar hebat, seperti kita pernah
bertemu, tapi dimanaa? Dan ah kamu siapa? Azzahra menatap kedua nya bingung,
ingin menarik Kalifah untuk pergi dari tempat ini tapi kalau di lihat-lihat
perisitiwa seperti ini tidak jauh berbeda dengan seorang tentara yang sudah
lama tidak pulang ke rumah, saat pulang ke rumah dan bertemu istrinya raut
wajahnya tidak jauh beda dengan Kalifah dan pemuda ini, lho? Bisa jadi dia
copet yang coba-coba menghipnotis lewat tatap mata, Azzahra mulai gusar, kini
dirinya yang beranjak, belum juga menuntaskan maksudnya, si pemuda itu
mengeluarkan suaranya lagi.
“Selamat
pagi, Kalifah” Ah ya ampuuun, Kalifah menelan ludah, dirinya baru ingat, pemuda
ini adalah ksatria bergitar yang hampir setiap pagi mengucapkan kalimat itu
pada Kalifah. Azzahra justru malah kepalang bingung, disambar keduanya.
“Selamat
pagi? Udah jam dua nih” Ungkap Azzahra polos sambil melihat jam tangannya.
Duuuh Azzahra. Keluh Kalifah dalam batin.
“Kamu
makhluk Tuhan, kan?” Kalifah baru ingat lagi, terakhir bertemu pemuda itu saat
ditinggal sendiri di halte lalu dalam hati dirinya menjawab “Selamat malam,
makhluk Tuhan tanpa nama” yang ditanya hanya diam, lagi-lagi Azzahra menyambar.
“Emang
disini ada yang lain? Selain makhluk Tuhan? Alien? Siluman?” Keduanya menoleh
menatap Azzahra dengan tatapan yang susah di artikan.
“Kemana
ajah, dia?” Pemuda itu bertanya pada Azzahra, sambil menunjuk Kalifah. Yang ditanya
ikut menunjuk Kalifah.
“Dia?”
Kini semua telunjuk mengarah pada Kalifah.
“Sudah hampir dua bulan ini dia ngga muncul di halte”
Kening Azzahra mengkerut, Kalifah bergerak meraih tas nya dan tas milik
Azzahra, lalu di tariknya lengah Azzahra untuk meninggalkan tempat ini. Azzahra
seolah terhipnotis, tapi masih dengan rasa bingung juga penasaran.
“Kita
harus cepet-cepet cari angkutan umum, Zah”
“Sebentar
sebentaar” Azzahra menahan langkah Kalifah, lalu kedua nya berhenti, Kalifah
mencoba memastikan bahwa pemuda itu tidak mengejar mereka “Aku bingung deh,
dialog kalian tadi itu ngomongin apasih?”
“Aku
jelasin sambil jalan yah” di rangkulnya bahu Azzahra “dia itu kaya makhluk
halus, tiba-tiba muncul gitu, kamu ngga kaget?”
“Makhluk
halus atau makhluk Tuhan?” Kalifah mengehela nafas.
“Laki-laki
itu yang pernah maki-maki aku di halte kota, depan orang banyak”
“Yang
berantem sama pacarnya sampe cakar-cakaran?”
“Cuma
cekcok mulut, Zah. Kamu ini apa sih” Sahut Kalifah gemes
“Yang
setiap pagi bawa gitar, kan? Kok tadi dia ngga bawa gitar yah?” Azzahra selalu
bisa buat keadaan makin kisruh, di tengoknya lagi ke belakang.
“Iya
itu dia yang setiap pagi selalu nyamperin aku di halte kota, semenjak selesai
UAS aku ngga pernah ketemu dia lagi, karena jam kuliahku berubah”
“Aaa
pantes ajah tadi dia nanyain kamu, berarti dia masih sering nungguin kamu di
halte, ih kok serem banget sih, maksudnya apa?”
“Aku
juga ngga ngerti, Zah. Laki-laki kok bisa kaya gitu, ya?”
“Itu
berarti kamu istimewa, pernah ada yang nunggu lebih lama di banding dia?” Pertanyaan
Azzahra seolah menjadi pisau yang barusan menusuk Azzahra kini berbalik
menusuknya, Kalifah tidak mampu menjawab.
“Untuk
mengejar perempuan seperti kamu itu ngga mudah, Lif. Perempuan dingin yang
sukar kenal dengan laki-laki, pilihan untuk menunggu kamu itu aku rasa adalah
cara seseorang memperlakukan kamu dengan istimewa”
“Lif,
aku ngga kenal dia, dia siapa aku ngga tau”
“Justru
karena kamu ngga kenal, dia bersabar untuk mengenal kamu, ngga pernah ya kamu
melihat isi dari ucapan selamat pagi?” Kalifah terdiam, dirinya pernah mencoba
berbic ara dengan pemuda itu, tapi selalu menjadi cerita yang bersambung hingga
saat ini, setelah waktu panjang memisahkan, akhirnya cerita itu tersambung
lagi. Haruskah dirinya menanggapi perintah Azzahra? Kenapa laki-laki bisa
seperti demikian? Karena kamu istimewa. Bisakah kamu melihat wajah seseorang
dalam setangkai bunga, Azzahra? Bisakah kamu mendengar lebih dalam suara
seseorang yang mengucapkan selamat pagi, Kalifah?
Jika
ada cinta, sapa lah dia, barangkali dibalas. Jika ada suara, dengarlah ia,
siapa tahu memanggilmu.
Ukie Efandari
yg ini bagus, mana lagi ?
BalasHapus