Hujan
mulai tidak lagi bisa berbisik manis di telinga Rau, kala suara nya yang semula
terdengar manis berubah menjadi gemuruh, di ambilnya sebuah bantal dan
ditelakkan untuk menutupi kepalanya, ternyata usahanya sia-sia, suara itu
semakin nakal terdengar, hujan yang seperti ini yang tidak bisa mengajak
dirinya untuk berfikir, entah apa yang di fikirkannya pagi ini, paling tidak
mendegarkan lagu sambil ditemani gerimis, bukan hujan lebat. Di ambilnya earphone dan sambungkannya dengan tab
kesayangnnya, sudah dari pagi dia tidak menengok ponsel nya atau alat
komunikasi lainnya yang dia miliki, hari ini seluruh alat komukasinya apapun
bentuknya tetaplah sama, berlayar gelap.
Rau
bangkit dari tempat tidur, di raih nya sebuah kursi kecil yang berdiri tegak
menghadap meja yang isinya semua koleksi kaset, sebelum kursi kecil itu
menjalankan tugas, Rae berdiri sejenak, mematung sambil tersenyum dan menatap
kursi kecil yang ada di depannya, kapan terakhir kali dirinya duduk disini,
mendengarkan ditemani lagu-lagu indah,
dan secangkir coklat hangat, dirinya hanya tersenyum seolah menyapa kursi kecil
itu, lalu tak lama dirinya tertawa, berfikir apa yang akan kursi kecil ini
lakukan jika memiliki telinga saat setelah mendengar sapa dari Rae atau
memiliki bibir yang bisa membalas senyum
manis yang Rae berikan. Imajinasi kadang bisa mengajak bercanda.
Rau
tipe perempuan yang tidak begitu menyukai keramaian, tetapi dirinya bukanlah
orang biasa, dirinya seorang penyanyi bersuara merdu, seorang mahasiswi yang
tidak ingin mengejar ketinggalannya, jangankan mengejar ketinggalan, untuk
ketinggalan setiap materi kuliah saja dia tidak mau, terbilang luar biasa untuk
seorang perempuan yang masih sangat muda sudah bisa menjalani hidup di dua
sisi. Di buka nya tirai jendela kamar, yang biasa terang hingga sinarnya
memancar ke seluruh dinding kamar, kini giliran dinding kamar yang menyaksikan
tarian lucu dari ribuan rintik hujan, oh mungkin jutaan, bahkan tak terhitung.
Dirinya
mulai bersandar dan tak lama setelah tab
yang digengamnya baru saja dalam kondisi on,
sebuah ring pesan terdengar, lalu lagi, lagi dan lagi.. Seterusnya, sampai
beberapa kali. Rau menahan kesal juga dengan rasa penasaran, rasa cemas, siapa
gerangan yang sepertinya terlihat begitu membutuhkan Rau, kepalanya yang semula
bersandar kini menatap layar tab
dengan manik mata yang tajam, lalu dirinya menyebut nama “Lian”, Lian? Lian
lagi? Dan seterusnya hampir semua pesan menuliskan nama ‘Lian’, ada juga dari
Marta, temannya satu fakultas di kelas
Hukum yang menanyakan Lian, karena Lian menghugungi Marta berkali-kali,
menanyakan keberadaan Rau dimana.
Kenapa
Lian seolah menjadi Liar? Sudah ku bilang kemarin sore, hari ini aku ingin
istirahat di rumah, tidak ingin rekaman, tidak ingin kemana-mana, jangan tanya-tanya
apalagi. “Apapun alasanku, kamu harus
bisa berbicara pada mereka, itu gunanya Assisten
dan manager” bentak Rae didepan
teman-teman kampusnya, sesaat sebelum dirinya masuk kelas, ditatapnya dua
pasang mata orang-orang kepercayaannya itu “hari ini kalian balik ke appartement bareng supir , minta supir
antar ke rumah kalian masing-masing, lalu balik lagi ke rumahku, mana kunci
mobilku!” Telapak tangan Rau menengadah di depan Lian, hal ini dilakukannya
agar Lian dan anteknya yang lainnya tidak ceroboh datang ke rumah untuk
menjemput paksa dirinya, mereka pikir siapa mereka? Tidak ada hak untuk mereka mengaturku, untuk
mengerti perasaanku saja mereka masih buta. Gumam Rae dalam batinnya.
Seharusnya Lian mengerti, apa yang
tengah dirasakan oleh Rau, berbagai gosip terdengar dari mulut publik, semua
gossip itu tidak bisa di tampungnya sendirian, seharusnya Lian dan yang
lainnnya mengerti dan bisa meredam, bukan malah meminta Rau untuk bersedia di
wawancara. Gossip mengenai kedekatan
pacarnya dengan seorang artis cantik, Leneira. Dirinya memang selalu bebas dari
gossip – gossip yang seolah hangat di bicarakan dan jadi tontonan banyak pasang
mata, tapi begitu ada gossip justru malah mengenai kedekatan Gusti, kekasihnya.
Dengan wanita lain.
Rau seolah ingin berteriak, ingin
langsung membanting tab yang saat ini di genggamnya, tapi dirinya harus
bersikap bijak, di baca nya satu persatu, berbagai pertanyaan kini sedang
menghantam Lian, beberapa wartawan menyinggahi rumahnya, sebelumnya Rau meminta
untuk Lian bisa menyangkal semua, benar atau tidak, tetap bilang tidak, tidak
pernah terjadi hal buruk antara diriku dan Gusti, hubungan kami masih normal,
hubungan kami tidak terputus, masih lancar dan tidak pernah ada hambatan, jawab
lah seolah-olah kamu adalah Assisten
kami berdua, Lian. Suara Rau kini seolah memohon. Haruskah aku memohon sampai
seperti ini, Lian?
Tapi pernyataan itu justru
disangkal Lian, dirinya bilang bahwa media sudah melihat kedua nya tertangkap sedang makan
malam berdua saat film yang di bintangi
Leneira mulai debut. Gusti adalah produser film nya, tidak ada yang tidak
mungkin kalau saja mereka tidak sengaja sedang makan sambil membicarakan
masalah pekerjaan, media bisa apa? Lian kepalang basah, tak sanggup menjawab
apalagi berkelit.
Kamu dimana, Rau? Media mulai
mendatangi rumahku. Barusan aku telfon Marta tapi kamu ngga lagi sama dia.
Rekaman hari ini di ubah jam, kamu dimana?. Selalu tanya dimana, dimana, dan
dimana. Di lemparnya tab itu jauh sampai mendarat di ranjangnya, di genggam
erat kepalanya “arrrrrrggghhhh….” Dengan di iringi suara petir di luar sana,
harusnya tidak perlu ada pertanyaan lagi, tidak ada job hari ini. Rau menatap
kosong, pendangannya menyapu seluruh isi meja, kaset-kaset kesayangannya yang
tinggi tertumpuk, lalu kaset miliknya,
berbagai album yang di sudah lama di rilis juga beserta piagam penghargaannya,
rasanya ingin disingkirkan dari meja itu, kalau tidak akan ruyam akibatnya sudah
di sapu dengan lengannya, di jatuhkan, atau kalau bisa di bating satu persatu
sambil hancur berkeping-keping. Setan apa yang sedang merasuki diri ini? Tidak
sengaja dirinya melihat single tahun lalu, yang berjudul “Dua Judul” lagu itu
di ciptakan oleh Gusti, ditulis dengan tangannya sendiri, di iringi alunan
piano dengan jemari Gusti, lalu berpindah ke gitar, sampi ke violin, dan
akhirnya lagu itu di rilis dengan iringan musik orchestra di tambah dengan
video clip yang kala itu konsepnya adalah buah pemikiran Gusti.
Ironis, seharusnya bukan Lian yang
bertanya dimana dirinya, tetapi Gusti yang harusnya bertanya, kamu dimana?
Sudah lihat berita pagi ini? Aku sudah selesai akan pembuatan film baru ku,
nanti aku balik ke Indonesia dan akan bicara pada media mengenai hal ini, kamu
jaga kesehatan, jangan berfikiran macem-macem dengan gossip itu. Apakah susah
sedikit membuatku bahagia, Gusti? Sebenarnya apa yang kamu fikirkan saat ini?
Senang dengan berita itu? Bangga? Kenapa tidak mencoba menguhungi agar aku
punya dalih yang lebih meyakinkan untuk bisa memberi kepastian kepada
media? Karena aku lelah dalam berpura-pura,
mati-matian kau ku bela, sampai seluruh antek ku jadi bahan pelampiasan, media
boleh disangkal dengan alasan yang diberika Lian atau yang lainnya, tapi
bagaimana bila teman-temanku bertanya ini itu, jika hanya sekedar bertanya aku
bisa menjawab, tapi yang susah adalah meyakinkan, apa yang di bicarakan public
nanti bila saat ini aku bilang bahwa tidak apa-apa antara dirimu dan Lene, tapi
nyatanya setelah kepulanganmu dari Ausie malah menjadi berita baru, apa yang
harus ku dalihkan lagi? Dengar atau tidak, Gusti? Seharusnya tanpa di minta
kamu sudah bisa mengira dan bertindak. Atau kedekatanmu dengan Lene bukan
gossip? Tapi nyata? Benar? Aku bukan perempuan yang bisa mengambil keputusan
tanpa ada bukti, sudah cukup sakit dengan apa yang kini menjadi buah bibir
diluar sana, di tambah dengan dirimu yang tak kunjung datang, jangankan untuk
datang, memberi alasan agar berita bisa berputar balik saja kau bungkam, ah itu
terlalu jauh, untuk memberi kabar kepadaku, mana? Sudah ke sekian kali setiap
pembuatan film pasti keadaannya seperti ini, tapi yang ini disertai berita
gossip itu, masih tidak mendengarkah dirimu, Gusti? Cukuplah, terpaksa harus ku
singkirkan wajahmu dari pandangku, hanya membuat suasana makin tidak karuan.
Di ambilnya bingkai foto yang bergambar
wajah kekasihnya, tepat di sebelah kaset single tahun lalu yang dibuatnya
bersama Gusti, di tatapnya tajam, dekat dan lekat. Lalu dibantingnya jauh
sampai menghantam sebuah rak buku yang terbuat dari kayu, bingkai foto itu
hancur berantakan. Rau kembali dalam posisi semula, kini ditundukan kepalanya,
hujan diluar sana mulai berhenti, tab tidak lagi bersuara, dan gambar
kekasihnya juga sudah hilang dari pandangannya, tidak ada pengganggu yang
seolah bisa menyaksikan airmata nya kian
mengalir hangat, kini dirinya bebas, biarkan airmata ini yang jadi saksi, tidak
ada hujan, tidak ada Lian, dan tidak ada Gusti.
Ukie Efandari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar