Hidup ini seperti artikel tentang cinta, tanpa cinta hidupmu MAYA, dengan cinta hidupmu NYATA...


Bila tak banyak cerita dalam hidupmu, paling tidak satu telah terukir di atas daun, ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Sabtu, 24 Januari 2015

Saksi



                Hujan mulai tidak lagi bisa berbisik manis di telinga Rau, kala suara nya yang semula terdengar manis berubah menjadi gemuruh, di ambilnya sebuah bantal dan ditelakkan untuk menutupi kepalanya, ternyata usahanya sia-sia, suara itu semakin nakal terdengar, hujan yang seperti ini yang tidak bisa mengajak dirinya untuk berfikir, entah apa yang di fikirkannya pagi ini, paling tidak mendegarkan lagu sambil ditemani gerimis, bukan hujan lebat. Di ambilnya earphone dan sambungkannya dengan tab kesayangnnya, sudah dari pagi dia tidak menengok ponsel nya atau alat komunikasi lainnya yang dia miliki, hari ini seluruh alat komukasinya apapun bentuknya tetaplah sama, berlayar gelap. 

                Rau bangkit dari tempat tidur, di raih nya sebuah kursi kecil yang berdiri tegak menghadap meja yang isinya semua koleksi kaset, sebelum kursi kecil itu menjalankan tugas, Rae berdiri sejenak, mematung sambil tersenyum dan menatap kursi kecil yang ada di depannya, kapan terakhir kali dirinya duduk disini, mendengarkan  ditemani lagu-lagu indah, dan secangkir coklat hangat, dirinya hanya tersenyum seolah menyapa kursi kecil itu, lalu tak lama dirinya tertawa, berfikir apa yang akan kursi kecil ini lakukan jika memiliki telinga saat setelah mendengar sapa dari Rae atau memiliki bibir  yang bisa membalas senyum manis yang Rae berikan. Imajinasi kadang bisa mengajak bercanda.

                Rau tipe perempuan yang tidak begitu menyukai keramaian, tetapi dirinya bukanlah orang biasa, dirinya seorang penyanyi bersuara merdu, seorang mahasiswi yang tidak ingin mengejar ketinggalannya, jangankan mengejar ketinggalan, untuk ketinggalan setiap materi kuliah saja dia tidak mau, terbilang luar biasa untuk seorang perempuan yang masih sangat muda sudah bisa menjalani hidup di dua sisi. Di buka nya tirai jendela kamar, yang biasa terang hingga sinarnya memancar ke seluruh dinding kamar, kini giliran dinding kamar yang menyaksikan tarian lucu dari ribuan rintik hujan, oh mungkin jutaan, bahkan tak  terhitung.

                Dirinya mulai bersandar dan tak lama setelah tab yang digengamnya baru saja dalam kondisi on, sebuah ring pesan terdengar, lalu lagi, lagi dan lagi.. Seterusnya, sampai beberapa kali. Rau menahan kesal juga dengan rasa penasaran, rasa cemas, siapa gerangan yang sepertinya terlihat begitu membutuhkan Rau, kepalanya yang semula bersandar kini menatap layar tab dengan manik mata yang tajam, lalu dirinya menyebut nama “Lian”, Lian? Lian lagi? Dan seterusnya hampir semua pesan menuliskan nama ‘Lian’, ada juga dari Marta, temannya satu fakultas  di kelas Hukum yang menanyakan Lian, karena Lian menghugungi Marta berkali-kali, menanyakan keberadaan Rau dimana.

                Kenapa Lian seolah menjadi Liar? Sudah ku bilang kemarin sore, hari ini aku ingin istirahat di rumah, tidak ingin rekaman, tidak ingin kemana-mana, jangan tanya-tanya apalagi.  “Apapun alasanku, kamu harus bisa berbicara pada mereka, itu gunanya Assisten dan manager” bentak Rae didepan teman-teman kampusnya, sesaat sebelum dirinya masuk kelas, ditatapnya dua pasang mata orang-orang kepercayaannya itu “hari ini kalian balik ke appartement bareng supir , minta supir antar ke rumah kalian masing-masing, lalu balik lagi ke rumahku, mana kunci mobilku!” Telapak tangan Rau menengadah di depan Lian, hal ini dilakukannya agar Lian dan anteknya yang lainnya tidak ceroboh datang ke rumah untuk menjemput paksa dirinya, mereka pikir siapa mereka?  Tidak ada hak untuk mereka mengaturku, untuk mengerti perasaanku saja mereka masih buta. Gumam Rae dalam batinnya.

Seharusnya Lian mengerti, apa yang tengah dirasakan oleh Rau, berbagai gosip terdengar dari mulut publik, semua gossip itu tidak bisa di tampungnya sendirian, seharusnya Lian dan yang lainnnya mengerti dan bisa meredam, bukan malah meminta Rau untuk bersedia di wawancara.  Gossip mengenai kedekatan pacarnya dengan seorang artis cantik, Leneira. Dirinya memang selalu bebas dari gossip – gossip yang seolah hangat di bicarakan dan jadi tontonan banyak pasang mata, tapi begitu ada gossip justru malah mengenai kedekatan Gusti, kekasihnya. Dengan wanita lain.

Rau seolah ingin berteriak, ingin langsung membanting tab yang saat ini di genggamnya, tapi dirinya harus bersikap bijak, di baca nya satu persatu, berbagai pertanyaan kini sedang menghantam Lian, beberapa wartawan menyinggahi rumahnya, sebelumnya Rau meminta untuk Lian bisa menyangkal semua, benar atau tidak, tetap bilang tidak, tidak pernah terjadi hal buruk antara diriku dan Gusti, hubungan kami masih normal, hubungan kami tidak terputus, masih lancar dan tidak pernah ada hambatan, jawab lah seolah-olah kamu adalah Assisten kami berdua, Lian. Suara Rau kini seolah memohon. Haruskah aku memohon sampai seperti ini, Lian?

Tapi pernyataan itu justru disangkal Lian, dirinya bilang bahwa media sudah  melihat kedua nya tertangkap sedang makan malam berdua  saat film yang di bintangi Leneira mulai debut. Gusti adalah produser film nya, tidak ada yang tidak mungkin kalau saja mereka tidak sengaja sedang makan sambil membicarakan masalah pekerjaan, media bisa apa? Lian kepalang basah, tak sanggup menjawab apalagi berkelit.

Kamu dimana, Rau? Media mulai mendatangi rumahku. Barusan aku telfon Marta tapi kamu ngga lagi sama dia. Rekaman hari ini di ubah jam, kamu dimana?. Selalu tanya dimana, dimana, dan dimana. Di lemparnya tab itu jauh sampai mendarat di ranjangnya, di genggam erat kepalanya “arrrrrrggghhhh….” Dengan di iringi suara petir di luar sana, harusnya tidak perlu ada pertanyaan lagi, tidak ada job hari ini. Rau menatap kosong, pendangannya menyapu seluruh isi meja, kaset-kaset kesayangannya yang tinggi tertumpuk, lalu  kaset miliknya, berbagai album yang di sudah lama di rilis juga beserta piagam penghargaannya, rasanya ingin disingkirkan dari meja itu, kalau tidak akan ruyam akibatnya sudah di sapu dengan lengannya, di jatuhkan, atau kalau bisa di bating satu persatu sambil hancur berkeping-keping. Setan apa yang sedang merasuki diri ini? Tidak sengaja dirinya melihat single tahun lalu, yang berjudul “Dua Judul” lagu itu di ciptakan oleh Gusti, ditulis dengan tangannya sendiri, di iringi alunan piano dengan jemari Gusti, lalu berpindah ke gitar, sampi ke violin, dan akhirnya lagu itu di rilis dengan iringan musik orchestra di tambah dengan video clip yang kala itu konsepnya adalah buah pemikiran Gusti.

Ironis, seharusnya bukan Lian yang bertanya dimana dirinya, tetapi Gusti yang harusnya bertanya, kamu dimana? Sudah lihat berita pagi ini? Aku sudah selesai akan pembuatan film baru ku, nanti aku balik ke Indonesia dan akan bicara pada media mengenai hal ini, kamu jaga kesehatan, jangan berfikiran macem-macem dengan gossip itu. Apakah susah sedikit membuatku bahagia, Gusti? Sebenarnya apa yang kamu fikirkan saat ini? Senang dengan berita itu? Bangga? Kenapa tidak mencoba menguhungi agar aku punya dalih yang lebih meyakinkan untuk bisa memberi kepastian kepada media?  Karena aku lelah dalam berpura-pura, mati-matian kau ku bela, sampai seluruh antek ku jadi bahan pelampiasan, media boleh disangkal dengan alasan yang diberika Lian atau yang lainnya, tapi bagaimana bila teman-temanku bertanya ini itu, jika hanya sekedar bertanya aku bisa menjawab, tapi yang susah adalah meyakinkan, apa yang di bicarakan public nanti bila saat ini aku bilang bahwa tidak apa-apa antara dirimu dan Lene, tapi nyatanya setelah kepulanganmu dari Ausie malah menjadi berita baru, apa yang harus ku dalihkan lagi? Dengar atau tidak, Gusti? Seharusnya tanpa di minta kamu sudah bisa mengira dan bertindak. Atau kedekatanmu dengan Lene bukan gossip? Tapi nyata? Benar? Aku bukan perempuan yang bisa mengambil keputusan tanpa ada bukti, sudah cukup sakit dengan apa yang kini menjadi buah bibir diluar sana, di tambah dengan dirimu yang tak kunjung datang, jangankan untuk datang, memberi alasan agar berita bisa berputar balik saja kau bungkam, ah itu terlalu jauh, untuk memberi kabar kepadaku, mana? Sudah ke sekian kali setiap pembuatan film pasti keadaannya seperti ini, tapi yang ini disertai berita gossip itu, masih tidak mendengarkah dirimu, Gusti? Cukuplah, terpaksa harus ku singkirkan wajahmu dari pandangku, hanya membuat suasana makin tidak karuan.

Di ambilnya bingkai foto yang bergambar wajah kekasihnya, tepat di sebelah kaset single tahun lalu yang dibuatnya bersama Gusti, di tatapnya tajam, dekat dan lekat. Lalu dibantingnya jauh sampai menghantam sebuah rak buku yang terbuat dari kayu, bingkai foto itu hancur berantakan. Rau kembali dalam posisi semula, kini ditundukan kepalanya, hujan diluar sana mulai berhenti, tab tidak lagi bersuara, dan gambar kekasihnya juga sudah hilang dari pandangannya, tidak ada pengganggu yang seolah bisa menyaksikan  airmata nya kian mengalir hangat, kini dirinya bebas, biarkan airmata ini yang jadi saksi, tidak ada hujan, tidak ada Lian, dan tidak ada Gusti.



Ukie Efandari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar