Pagi ini seperti
butiran mutiara yang indah menerobos pelupuk mata Uthi dan Umam, mereka baru
menyadari bahwa sinar matahari yang dipancarkan saat pagi hari sangatlah indah
dan membawa semangat lebih, berjalan sambil merangkul Koran-korannya, sesekali
mereka tersenyum saat sedang melintas di depan Ibu penjual makanan.
“Umam,
aku lapaaar..” keluh Uthi sambil mengenggam perutnya.
“Kita
belum dapat duit sama sekali,buang sifat manjamu!” potong Umam membentak sambil
membaca korannya.
“Iya
Umam, kenapa kamu baca sendiri koranmu? itu untuk
dijual!” kini bentakkan dari Uthi yang terdengar.
“Lantas
kalau ku baca akan habis kertasnya? Atau akan
hilang huruf dan gambarnya? Seperti
pedagang kue yang menghabiskan dagangannya dengan melahapnya sendiri?” masih dengan tatapan yang tertuju pada wacana Koran yang
digenggamnya, lalu tatapannya berpindah pada bola mata Uthi sambil mengetuk
keningnya, menunjukkan bahwa sebelum berbicara hendaknya difikir dulu. Uthi
mencibir kesal..
“Kalau
begitu akan ku baca juga koranku!” gerakannya cepat membuka Koran, lalu terhenti
saat kalimat tanya Umam yang cukup berlabirin mebuatnya menahan emosi.
“Kamu
bisa baca? Bukankah kamu hanya
bisa mengeluh?” tatapan Umam masih
pada huruf-huruf dalam korannya.
“Aku
masih bisa melihat gambar, walau lebih banyak tulisan dikoran ini, huruf-huruf
disini seperti dunia lain bagiku, aku....” gerakan tangan Umam tiba-tiba mengagetkan Uthi, seperti
memberi tahu kabar bagus yang dimengertinya.
“Uthi,
coba baca ini!” seketika Uthi menghentikkan langkahnya lalu memandang Umam
dalam kebingungan juga rasa kesal, yang dipandang seakan lupa diri dengan
ucapannya dan masih saja fokus pada korannya.
“Kamu
menyuruhku membaca berita itu? Aku tidak
bisa baca, hanya bisa mengeluh!” Ucap Uthi pelan namun menghantam telinga Umam
yang berada tepat disampingnya, Umam mengangkat wajahnya dan memandang Uthi.
“Aku
lupa, maaf. Seorang perempuan mengatakan bahwa dia pernah mengirim surat kepada
anaknya saat berada dikota tempat dia bekerja..”
“Lalu?” potong Uthi polos, keras dan singkat.
“Biarkan
aku selesai membacanyaa!” Gerakan jari-jari Umam menarik daun telinga, membuat
Uthi meringis kesakitan.
“Bisa
kamu lanjutkan tanpa menjewer telingaku..” ucap Uthi sambil memegang telinga
kirinya.
“Dia
bekerja disebuah kota pada satu Negara yang jauh dari Indonesia, saat anaknya
datang ke kotanya, dia hanya bisa mengirim surat dan melihat dari layar kaca televisi..”
“Anaknya
pemain sinetron?”’ potong Uthi keras
“Bukan,
kapten tim merah putih” Sambil menunjukkan kausnya yang juga berwarna merah dan putih, Umam mulai
bersemangat.
“Waaaw,
mungkin perempuan itu tidak punya duit untuk bertemu anaknya”
“Bukan
tidak punya duit, tapi tidak diberi duit oleh majikannya saat perempuan ini
meminta ijin untuk bertemu anaknya”
“Aku
tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasa oleh perempuan itu,
tapi kenapa bukan anaknya yang membawa pulang Ibu nya? apakah si Kapten anak buangan? Atau si Kapten memang tidak tahu kalau Ibu nya...”
“Kamu
kenapa bisa bicara sewaras ini? ” tanya Umam
sambil mengerutkan dahinya.
“Selama
ini aku memang selalu gila, apalagi soal waktu, ada saja waktu yang terbuang
sia-sia hanya dengan keluhan lapar, keluhan lelah, ingin tidur, ingin makan dan
yang lainnya” langkah Uthi terhenti, kepalanya menunduk, matanya menatap
Koran-korannya, Umam mengikutinya “Setiap hari aku mengeluh pada seorang anak
laki-laki seusiaku, padahal aku bisa mengeluh pada orang tuaku, pada Ibu ku,
seperti perempuan itu..” Matanya tertuju pada Koran yang digenggam Umam.
‘Perempuan
dalam Koran ini?” Umam menunjuk
korannya, Uthi mengangguk pelan.
“Dia
ingin bertemu dengan anaknya, padahal masih bisa dilihatnya dalam layar kaca,
bagaimana dengan perempuan yang pernah melahirkanku dan ku sebut “Ibu”, tidak
pernah dia mencariku...”
“Mungkin
dia sedang mencarimu, namun belum dipertemukan, kamu harus sabar, kebahagiaan
Tuhan selalu ada untuk penghuni bumi, termasuk kamu”
“Termasuk
aku?” telunjuknya menunjuk dadanya dalam
kebingungan “ Aku cuma anak perempuan yang bodoh dan awam dengan segala macam
hal” Uthi mengangkat kepalanya dan sejenak menatap langit sampai akhirnya
matanya lurus menatap Umam.
“Kalau
kita lama berdiri disini, kebahagiaan tak kunjung datang, Koran ini belum ada
yang terjual” tegas Umam sambil mengenggam tangan Uthi dan menariknya bermaksud
untuk mengangkat kaki dari tempat itu, namun Uthi masih terdiam dan ditariknya
lagi tangan Umam.
“Lantas
bagaimana Ibu ku bisa bertemu denganku? Jika dengan wajahku saja dia tak pernah tahu”
“Jadi
Kapten kesebelasan dulu” jawab Umam lurus dan singkat
“Aku? Mana aku mampu jadi seorang Kapten?” Uthi terjebak dalam kalimat Umam, dalam tatapan Uthi yang menunggu
jawaban, ada suara tawa dalam hati Umam juga sekilas senyum dibibirnya dan
tertangkap dalam bola mata Uthi, membuat Uthi semakin bingung.
“Jelas
tidak mampu! membaca saja kamu butuh guru, apalagi untuk menendang sebuah bola,
kamu hanya mampu mengeluh!” Ucap Umam tajam dalam canda, bibirnya merekah lebar
seolah puas meledek Uthi, diangkat kakinya jauh berjalan, meniggalkan Uthi yang
terdiam dalam keterpanaannya akan kalimat Umam. Dalam hati Uthi menahan sesal
juga menahan tawa. Kebahagian itu datang bersama takdir, namun takdir tak semua berujung bahagia, tapi dirinya
percaya bahwa takdirnya adalah sebuah kebahagiaan yang akan dia dapatkan kelak.
Ukie Efandari
Ukie Efandari
menarik,, coba cari buat penerbit nya kie,, :)
BalasHapuskali aja beruntung.. dan lu bisa famous dekh..
Alhamdulillah, terimakasih komentar dan sarannya :)
Hapus