Hidup ini seperti artikel tentang cinta, tanpa cinta hidupmu MAYA, dengan cinta hidupmu NYATA...


Bila tak banyak cerita dalam hidupmu, paling tidak satu telah terukir di atas daun, ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Sabtu, 25 Mei 2013

Langit Pagi



    Pagi ini seperti butiran mutiara yang indah menerobos pelupuk mata Uthi dan Umam, mereka baru menyadari bahwa sinar matahari yang dipancarkan saat pagi hari sangatlah indah dan membawa semangat lebih, berjalan sambil merangkul Koran-korannya, sesekali mereka tersenyum saat sedang melintas di depan Ibu penjual makanan.

                “Umam, aku lapaaar..” keluh Uthi sambil mengenggam perutnya.

                “Kita belum dapat duit sama sekali,buang sifat manjamu!” potong Umam membentak sambil membaca korannya.

                “Iya Umam, kenapa kamu baca sendiri koranmu? itu untuk dijual!” kini bentakkan dari Uthi yang terdengar.

                “Lantas kalau ku baca akan habis kertasnya? Atau akan hilang huruf dan gambarnya? Seperti pedagang kue yang menghabiskan dagangannya dengan melahapnya sendiri?” masih dengan tatapan yang tertuju pada wacana Koran yang digenggamnya, lalu tatapannya berpindah pada bola mata Uthi sambil mengetuk keningnya, menunjukkan bahwa sebelum berbicara hendaknya difikir dulu. Uthi mencibir kesal..

                “Kalau begitu akan ku baca juga koranku!” gerakannya cepat membuka Koran, lalu terhenti saat kalimat tanya Umam yang cukup berlabirin mebuatnya menahan emosi.

                “Kamu bisa baca? Bukankah kamu hanya bisa mengeluh?” tatapan Umam masih pada huruf-huruf dalam korannya.

                “Aku masih bisa melihat gambar, walau lebih banyak tulisan dikoran ini, huruf-huruf disini seperti dunia lain bagiku, aku....” gerakan tangan  Umam tiba-tiba mengagetkan Uthi, seperti memberi tahu kabar bagus yang dimengertinya.

                “Uthi, coba baca ini!” seketika Uthi menghentikkan langkahnya lalu memandang Umam dalam kebingungan juga rasa kesal, yang dipandang seakan lupa diri dengan ucapannya dan masih saja fokus pada korannya.

                “Kamu menyuruhku membaca berita itu? Aku tidak bisa baca, hanya bisa mengeluh!” Ucap Uthi pelan namun menghantam telinga Umam yang berada tepat disampingnya, Umam mengangkat wajahnya dan memandang Uthi.

                “Aku lupa, maaf. Seorang perempuan mengatakan bahwa dia pernah mengirim surat kepada anaknya saat berada dikota tempat dia bekerja..”

                “Lalu?” potong Uthi polos, keras dan singkat.

                “Biarkan aku selesai membacanyaa!” Gerakan jari-jari Umam menarik daun telinga, membuat Uthi meringis kesakitan.

                “Bisa kamu lanjutkan tanpa menjewer telingaku..” ucap Uthi sambil memegang telinga kirinya.

                “Dia bekerja disebuah kota pada satu Negara yang jauh dari Indonesia, saat anaknya datang ke kotanya, dia hanya bisa mengirim surat dan melihat dari layar kaca televisi..”

                “Anaknya pemain sinetron?”’ potong Uthi keras

                “Bukan, kapten tim merah putih” Sambil menunjukkan kausnya yang juga  berwarna merah dan putih, Umam mulai bersemangat.

                “Waaaw, mungkin perempuan itu tidak punya duit untuk bertemu anaknya”

                “Bukan tidak punya duit, tapi tidak diberi duit oleh majikannya saat perempuan ini meminta ijin untuk bertemu anaknya”

                “Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasa oleh perempuan itu, tapi kenapa bukan anaknya yang membawa pulang Ibu nya? apakah si Kapten anak buangan? Atau si Kapten memang tidak tahu kalau Ibu nya...”

                “Kamu kenapa bisa bicara sewaras ini? ” tanya Umam sambil mengerutkan dahinya.

                “Selama ini aku memang selalu gila, apalagi soal waktu, ada saja waktu yang terbuang sia-sia hanya dengan keluhan lapar, keluhan lelah, ingin tidur, ingin makan dan yang lainnya” langkah Uthi terhenti, kepalanya menunduk, matanya menatap Koran-korannya, Umam mengikutinya “Setiap hari aku mengeluh pada seorang anak laki-laki seusiaku, padahal aku bisa mengeluh pada orang tuaku, pada Ibu ku, seperti perempuan itu..” Matanya tertuju pada Koran yang digenggam Umam.

                ‘Perempuan dalam Koran ini?” Umam menunjuk korannya, Uthi mengangguk pelan.

                “Dia ingin bertemu dengan anaknya, padahal masih bisa dilihatnya dalam layar kaca, bagaimana dengan perempuan yang pernah melahirkanku dan ku sebut “Ibu”, tidak pernah dia mencariku...”

                “Mungkin dia sedang mencarimu, namun belum dipertemukan, kamu harus sabar, kebahagiaan Tuhan selalu ada untuk penghuni bumi, termasuk kamu”

                “Termasuk aku?” telunjuknya menunjuk dadanya dalam kebingungan “ Aku cuma anak perempuan yang bodoh dan awam dengan segala macam hal” Uthi mengangkat kepalanya dan sejenak menatap langit sampai akhirnya matanya lurus menatap Umam.

                “Kalau kita lama berdiri disini, kebahagiaan tak kunjung datang, Koran ini belum ada yang terjual” tegas Umam sambil mengenggam tangan Uthi dan menariknya bermaksud untuk mengangkat kaki dari tempat itu, namun Uthi masih terdiam dan ditariknya lagi tangan Umam.

                “Lantas bagaimana Ibu ku bisa bertemu denganku?  Jika dengan wajahku saja dia tak pernah tahu”
                “Jadi Kapten kesebelasan dulu” jawab Umam lurus dan singkat

                “Aku? Mana aku mampu jadi seorang Kapten?” Uthi terjebak dalam kalimat Umam, dalam tatapan Uthi yang menunggu jawaban, ada suara tawa dalam hati Umam juga sekilas senyum dibibirnya dan tertangkap dalam bola mata Uthi, membuat Uthi semakin bingung.

                “Jelas tidak mampu! membaca saja kamu butuh guru, apalagi untuk menendang sebuah bola, kamu hanya mampu mengeluh!” Ucap Umam tajam dalam canda, bibirnya merekah lebar seolah puas meledek Uthi, diangkat kakinya jauh berjalan, meniggalkan Uthi yang terdiam dalam keterpanaannya akan kalimat Umam. Dalam hati Uthi menahan sesal juga menahan tawa. Kebahagian itu datang bersama takdir, namun takdir  tak semua berujung bahagia, tapi dirinya percaya bahwa takdirnya adalah sebuah kebahagiaan yang akan dia dapatkan kelak.


Ukie Efandari

2 komentar:

  1. menarik,, coba cari buat penerbit nya kie,, :)
    kali aja beruntung.. dan lu bisa famous dekh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terimakasih komentar dan sarannya :)

      Hapus