Festival Seni Mahasiswa dari para mahasiswa
yang terhitung dalam 3 hari sudah dimulai pada hari ini, tepat jam 9 pagi,
Syair sudah berpakaian rapi, dirinya yang amat menggilai dunia teater dan musik
jelas tak ingin melewati acara ini, walau dirinya tahu Jeviar, matan pacarnya,
juga ikut tampil bersama band yang baru dibentuknya, band yang sengaja dibentuk
untuk mengikuti festival bukan untuk selamanya. Di satu kursi kosong Syair
mencoba tetap ayik dalam kesendiriannya, mecoba mengikuti hentak suara musik yang
didengarnya atau terseyum melihat apa yang dilihatnya, namun di satu sudut yang
semula menjadi pandangannya sekilas seolah menghipnotisnya untuk tetap
memandangnya, tepat dimana Jeviar keluar ruangan bersama sahabatnya Nasha.
Syair memang mengetahui kedekatan sahabatnya dengan mantan pacarnya dan Syair
melihat bahwa sepertinya Jeviar cukup bahagia bersama Nasha.
Awalnya Syair biasa saja setelah
tahu hal itu, namun semenjak Adli, laki-laki yang baru saja memberinya sebuah
cincin dalam acaranya pertunagannya, kini pergi tak ada kabar, Syair tak pernah menduga hal ini terjadi padanya,
rasa sepi itu muncul lagi dan sosok Jeviar dirindukannya lagi, namun Syair
menganggap bahwa Jeviar telah menjadi milik Nasha dan dia akan berdosa jika merindukan
seseorang yang bukan miliknya.
Syair berupaya untuk tidak menatap
mereka yang tengah duduk sambil meneguk segelas air minum, Syair merasa sakit,
sakit yang teramat pada hari ini, hari yang seharusnya membawanya pada
kebisingan dan kebahagiaan. Bukan kesepian dan kesakitan. Sesekali bola matanya
melirik ke arah dimana sahabat dan mantan pacaranya beranjak dari tempat
duduknya dan mulai berjalan ke arahnya, dengan cepat Syair mengeluarkan ponsel
dalam saku celananya, berpura-pura untuk tidak mengetahui kehadiran keduanya
dalam tempat itu.
“Sya, elo sendirian?” suara Nasha
mengagetkan kegugupannya, diangkat kepalanya dan ditatapnya Nasha yang di ikuti
Jeviar dibelakangnya, Syair mencoba untuk tidak menatap Jeviar, begitupun
Jeviar, sama sekali tidak menatap Syair.
“Iya, Nas. Gue baru dateng nih, Mas
Adhi minta anterin ke kantornya, jadi agak telat” dalam percakapan itu samar
terlihat dalam bola mata Syair bahwa Jeviar masih ditempatnya berdiri sambil
memandang area panggung, seolah acuh dan malas.
“Lho emangnya Adli belum juga ada
kabar?” tanya Nasha seolah cemas dan ingin tahu, mendengar kalimat itu
tiba-tiba Jeviar mengangkat kaki dan pergi dari tempatnya berdiri beserta gelengan
lemas dari kepala Syair “Yah ampun kemana sih si Adli, elo udah coba kontak
keluarganya yang Denpasar?”
“Laki-laki yang bertanggung jawab
itu berani mempertanggung jawabkan ikrarnya juga tanggung jawabnya, yaitu gue.
Jadi kalau dia emang mau pergi dari gue, ngga akan gue tahan kok” Ujar Syair
santai, namun matanya melirik mencari kemana sosok Jeviar yang semula berdiri
diantara dirinya dan Nasha.
.
“Sorry banget, Sya. Gue ngga bisa
lama-lama juga, Cuma mau ngasih titipan dari kakaknya Syilan, seminggu lagi
resepsinya pernikahannya di gelar di kota Bandung, elo disuruh dateng” tangan
kanannya merogoh tas nya dan mengeluarkan sebuah undangan “Nih, kalo Adli udah
ada kabar, elo ajak Adli yah, gue balik dulu, Sya” telapak tangan Nasha
mengusap kepala Syair, sebelum Nasha pergi satu senyum manis diberikan untuk
Syair dan Syair pun membalasnya.
Di ikutinya Nasha yang berjalan
menajuhinya dalam diam, nyatanya dia berdiri sejenak hanya untuk memanggil
Jeviar yang hanya menjauh ke tempat yang paling dekat dengan panggung, entah
kenapa Jeviar sedingin ini pada dirinya, padahal Syair berarap Jeviar mau
bertanya keadaannya sekarang. Walaupun Syair paham bahwa Jeviar pasti sudah
tahu perkara Adli yang ditelan bumi, namun Syair tetap ingin mendengar suara
Jeviar dan perhatiannya.
Syair menatap Jeviar dan Nasha yang
pergi ke arah pintu keluar gedung, hatinya berguncang tiba-tiba, genggamannya bergetar sesaat
sebelum Jeviar menghampiri pintu, berharap wajah Jeviar menatapnya walau untuk
sejenak, namun Syair menyangka itu tak mungkin terjadi, ditundukan kepalanya
sambil menatap sebuah undangan yang digenggamnya.
Sebelum Jeviar berbelok ke balik
pintu keluar, Jeviar menghentikkan langkahnya, menatap lurus pada seorang
perempuan yang bukan lagi miliknya, Jeviar manatap Syair dari jarak sejauh ini,
memang hanya bisa seperti ini, karena Syair bukanlah lagi miliknya, Jeviar
menahan tangis yang terisak dalam dadanya, menahan perih yang tergores pada
dinding hatinya.
Syair tidak menyadari kenapa Jeviar
bersikap seolah acuh, Jeviar diam dalam percakapannya dengan Nasha, karena
sedari Jeviar berjalan menghampiri dirinya, Jeviar penuh menatap Syair juga
cincin yang diberikan Adli saat Syair menggenggam ponselnya, saat itulah Jeviar
menahan gejolak batinnya, kenapa Syair masih saja memakai cincin pemeberian
orang yang tak jelas kneradaanya, hatinya berseru demikian, keras, bergema dan
hanya dirinya yang mendengar. Jeviar memilih menjauh dari percakapannya dengan
Nasha karena dia tak ingin mendengar sebuah nama, yaitu “Adli” walaupun Nasha
yang mengucap, namun dirinya yakin Syair juga akan mengucapnya dan mengatakan
bahwa dirinya merindukan Adli, Jeviar memilih mejauh dari tempat itu ke tempat
dimana dia tidak bisa mendengar Syair menyebut nama “Adli”.
Dalam keramaian yang terasa amat
sepi, Jeviar masih dalam diamnya menatap Syair yang duduk membelakanginya
dengan sebuah undangan ditangannya. Jeviar tidak mengetahui bahwa Syair kini
tengah mematung dan merasa kehilangan dirinya, membutuhkan pelukannya. Di arah
sana Syair tidak sadar ada sosok yang datang dari masa lalunya yang tengah
menatapnya penuh rindu, tak ada daya untuk menggapai yang sebenarnya rindu
menggebuk bahkan menyeret untuk merangkul dirinya penuh cinta. Merangkul rasa
sepi dalam jemari satu sama lain, mereka saling tak menyadari dalam kesakitan
hati masing-masing.
Ukie Efandari
Ukie Efandari
Ukie Efandari
Ukie Efandari
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagus :)
BalasHapus