Hidup ini seperti artikel tentang cinta, tanpa cinta hidupmu MAYA, dengan cinta hidupmu NYATA...


Bila tak banyak cerita dalam hidupmu, paling tidak satu telah terukir di atas daun, ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Sabtu, 25 Mei 2013

Dalam Diam





                Festival Seni Mahasiswa dari para mahasiswa yang terhitung dalam 3 hari sudah dimulai pada hari ini, tepat jam 9 pagi, Syair sudah berpakaian rapi, dirinya yang amat menggilai dunia teater dan musik jelas tak ingin melewati acara ini, walau dirinya tahu Jeviar, matan pacarnya, juga ikut tampil bersama band yang baru dibentuknya, band yang sengaja dibentuk untuk mengikuti festival bukan untuk selamanya. Di satu kursi kosong Syair mencoba tetap ayik dalam kesendiriannya, mecoba mengikuti hentak suara musik yang didengarnya atau terseyum melihat apa yang dilihatnya, namun di satu sudut yang semula menjadi pandangannya sekilas seolah menghipnotisnya untuk tetap memandangnya, tepat dimana Jeviar keluar ruangan bersama sahabatnya Nasha. Syair memang mengetahui kedekatan sahabatnya dengan mantan pacarnya dan Syair melihat bahwa sepertinya Jeviar cukup bahagia bersama Nasha.

            Awalnya Syair biasa saja setelah tahu hal itu, namun semenjak Adli, laki-laki yang baru saja memberinya sebuah cincin dalam acaranya pertunagannya, kini pergi tak ada kabar, Syair  tak pernah menduga hal ini terjadi padanya, rasa sepi itu muncul lagi dan sosok Jeviar dirindukannya lagi, namun Syair menganggap bahwa Jeviar telah menjadi milik Nasha dan dia akan berdosa jika merindukan seseorang yang bukan miliknya.

            Syair berupaya untuk tidak menatap mereka yang tengah duduk sambil meneguk segelas air minum, Syair merasa sakit, sakit yang teramat pada hari ini, hari yang seharusnya membawanya pada kebisingan dan kebahagiaan. Bukan kesepian dan kesakitan. Sesekali bola matanya melirik ke arah dimana sahabat dan mantan pacaranya beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan ke arahnya, dengan cepat Syair mengeluarkan ponsel dalam saku celananya, berpura-pura untuk tidak mengetahui kehadiran keduanya dalam tempat itu.

            “Sya, elo sendirian?” suara Nasha mengagetkan kegugupannya, diangkat kepalanya dan ditatapnya Nasha yang di ikuti Jeviar dibelakangnya, Syair mencoba untuk tidak menatap Jeviar, begitupun Jeviar, sama sekali tidak menatap Syair.

            “Iya, Nas. Gue baru dateng nih, Mas Adhi minta anterin ke kantornya, jadi agak telat” dalam percakapan itu samar terlihat dalam bola mata Syair bahwa Jeviar masih ditempatnya berdiri sambil memandang area panggung, seolah acuh dan malas.

            “Lho emangnya Adli belum juga ada kabar?” tanya Nasha seolah cemas dan ingin tahu, mendengar kalimat itu tiba-tiba Jeviar mengangkat kaki dan pergi dari tempatnya berdiri beserta gelengan lemas dari kepala Syair “Yah ampun kemana sih si Adli, elo udah coba kontak keluarganya yang Denpasar?”

            “Laki-laki yang bertanggung jawab itu berani mempertanggung jawabkan ikrarnya juga tanggung jawabnya, yaitu gue. Jadi kalau dia emang mau pergi dari gue, ngga akan gue tahan kok” Ujar Syair santai, namun matanya melirik mencari kemana sosok Jeviar yang semula berdiri diantara dirinya dan Nasha.
.
            “Sorry banget, Sya. Gue ngga bisa lama-lama juga, Cuma mau ngasih titipan dari kakaknya Syilan, seminggu lagi resepsinya pernikahannya di gelar di kota Bandung, elo disuruh dateng” tangan kanannya merogoh tas nya dan mengeluarkan sebuah undangan “Nih, kalo Adli udah ada kabar, elo ajak Adli yah, gue balik dulu, Sya” telapak tangan Nasha mengusap kepala Syair, sebelum Nasha pergi satu senyum manis diberikan untuk Syair dan Syair pun membalasnya.

            Di ikutinya Nasha yang berjalan menajuhinya dalam diam, nyatanya dia berdiri sejenak hanya untuk memanggil Jeviar yang hanya menjauh ke tempat yang paling dekat dengan panggung, entah kenapa Jeviar sedingin ini pada dirinya, padahal Syair berarap Jeviar mau bertanya keadaannya sekarang. Walaupun Syair paham bahwa Jeviar pasti sudah tahu perkara Adli yang ditelan bumi, namun Syair tetap ingin mendengar suara Jeviar dan perhatiannya.

            Syair menatap Jeviar dan Nasha yang pergi ke arah pintu keluar gedung, hatinya berguncang  tiba-tiba, genggamannya bergetar sesaat sebelum Jeviar menghampiri pintu, berharap wajah Jeviar menatapnya walau untuk sejenak, namun Syair menyangka itu tak mungkin terjadi, ditundukan kepalanya sambil menatap sebuah undangan yang digenggamnya.

            Sebelum Jeviar berbelok ke balik pintu keluar, Jeviar menghentikkan langkahnya, menatap lurus pada seorang perempuan yang bukan lagi miliknya, Jeviar manatap Syair dari jarak sejauh ini, memang hanya bisa seperti ini, karena Syair bukanlah lagi miliknya, Jeviar menahan tangis yang terisak dalam dadanya, menahan perih yang tergores pada dinding hatinya.

            Syair tidak menyadari kenapa Jeviar bersikap seolah acuh, Jeviar diam dalam percakapannya dengan Nasha, karena sedari Jeviar berjalan menghampiri dirinya, Jeviar penuh menatap Syair juga cincin yang diberikan Adli saat Syair menggenggam ponselnya, saat itulah Jeviar menahan gejolak batinnya, kenapa Syair masih saja memakai cincin pemeberian orang yang tak jelas kneradaanya, hatinya berseru demikian, keras, bergema dan hanya dirinya yang mendengar. Jeviar memilih menjauh dari percakapannya dengan Nasha karena dia tak ingin mendengar sebuah nama, yaitu “Adli” walaupun Nasha yang mengucap, namun dirinya yakin Syair juga akan mengucapnya dan mengatakan bahwa dirinya merindukan Adli, Jeviar memilih mejauh dari tempat itu ke tempat dimana dia tidak bisa mendengar Syair menyebut nama “Adli”.

            Dalam keramaian yang terasa amat sepi, Jeviar masih dalam diamnya menatap Syair yang duduk membelakanginya dengan sebuah undangan ditangannya. Jeviar tidak mengetahui bahwa Syair kini tengah mematung dan merasa kehilangan dirinya, membutuhkan pelukannya. Di arah sana Syair tidak sadar ada sosok yang datang dari masa lalunya yang tengah menatapnya penuh rindu, tak ada daya untuk menggapai yang sebenarnya rindu menggebuk bahkan menyeret untuk merangkul dirinya penuh cinta. Merangkul rasa sepi dalam jemari satu sama lain, mereka saling tak menyadari dalam kesakitan hati masing-masing.


Ukie Efandari


Ukie Efandari


2 komentar: