Hidup ini seperti artikel tentang cinta, tanpa cinta hidupmu MAYA, dengan cinta hidupmu NYATA...


Bila tak banyak cerita dalam hidupmu, paling tidak satu telah terukir di atas daun, ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Sabtu, 08 Agustus 2015

Apa kabar, Cinta?




 
 Apa kabar Cinta hari ini?
 Masih sama rasanya saat pertama kali kita bertemu?

            Sore ini Rae tidak bisa melanjutkan jadwal kuliahnya, dirinya sontak lari dan sergap mencari angkutan umum setelah ponselnya berdering dan orang diseberang sana mengatakan bahwa adiknya yang tinggal bersama neneknya kini pulang ke Jakarta. Suara Mba Jum terdengar sumringah pada jawaban pertama yang keluar dari Rae

            “Non, Ray”  Panggil Mba Jum semangat dalam telefon

            “Rae” Tukasnya singkat “Mba Jum boleh salah panggil, asal jangan saat temen-temenku dateng kerumah”  Seketika meradang sesaat mendengar Mba Jum yang selalu salah memanggil namanya.

            “Iya, Non. Simpen dulu marahnya, Non Fenne hari ini balik..”

            “Serius? Kok ngga ada kabar? Mba Jum bohong, ya? Bilang ajah aku disuruh pulang karena ada jadwal cuci darah, bener kan?” Sesaat kemudian hening, suara Mba Jum tertahan ditenggorokan, dirinya merasakan kekhawatiran yang amat terdalam pada gadis belia yang kini harus diasuhnya sampai usianya 22 tahun, apakah akan seperti ini terus? Kapan Non Rae bisa sembuh?

            “Bener kan, Mba Jum?” Suara Rae terdegar lagi. Mba Jum tersibak seketika

            “Kalo Mba Jum bohong, Non Rae beliin Mba Jum martabak raksasa, ya? Bil?”

            “Bil? Deal, maskudnya?

            “Aduh Mba Jum salah terus daritadi, intinya Non Fenne hari ini balik, Mba Jum sih cuma kasih kabar ajah ke Non Ray…”

            “RAE” Potongnya lebih tegas

            “Iya Noon..”

            “Udah udah, aku pulang”

            Tut..tut..tut..

            Mba Jum sesaat terpana, Non Rae kenapa pulang? Perasaan Mba Jum ngga nyuruh pulang, aduh gimana kalau bapak tau Non Rae dirumah, yang ada disuruh ke rumah sakit untuk cuci darah. Mba Jum selalu membuat alasan yang berisi pesan moral saat dirinya harus menjalani cuci darah, asal Non Rae tahu,  itu semua Mba Jum lakukan karena Mba Jum tahu seperti apa cinta seorang ayah kepada putri nya. Maafin Mba Jum sudah berani mencintai Non Rae, Mba Jum selalu mengingat bagaimana kerja semesta untuk bisa membangkitkan rasa-rasa kecil yang tumbuh lalu senantiasa menyerupai beberapa tangkai bunga untuk beberapa orang tercinta.

 Atau kerja matahari untuk kita saling mencinta disetiap pagi atau kerja rembulan untuk kita saling mencinta setiap waktu menunjukan saat untuk beristirahat dan simpanlah cintamu untuk esok, bawalah dirimu untuk mecintai hari esok, jangan pernah lupa untuk saling mencinta, karena dari sanalah semesta bekerja lebih extra, perlahan menunjukkanmu dimana cinta berada dan menunjukan seperti apa bahagia tercipta.

“Non Fenne mau makan apa? Mba Jum buatin mie enak, mau?”

“Aku mau ketemu Kak Rae dulu, aku mau lihat keadaannya sekarang, pasti wajahnya lebih pucat, ya?” Mba Jum tidak menjawab, tatapan masih fokus pada cangkir berisi teh hangat yang tengah diaduknya dengan sesendok gula, namun telinganya mendengar jelas lesuh cemas suara Fenne, namun bibirnya terus mengatup, ternggorokan enggan bersuara, hanya senyum tipis yang terlihat disana.

Bruk…

Keduanya menoleh ke arah pintu depan, lalu saling pandang, mengerutkan dahi “Kucing?”

“Fenneeeeeee…” Suara itu terdengar dari depan, keduanya tersenyum lebar, bagaikan Pak Pos membawa surat cinta

Rae berlari setelah menutup pintu dan sesaat melihat wajah Fenne dirinya langsung duduk disampingnya, memeluk erat, beberapa detik, lama ternyata, dan airmata keluar dari kedua pasang mata itu. Mba Jum memandang diam, dirinya gusar, lalu bangkit berjalan ke arah dapur hendak mengambil sepiring nasi dan lauk untuk Rae makan siang.

“Fen, hari ini aku ada kuliah pidana, sampe malem biasanya, tapi jam segini aku udah pulang, bahagia banget rasanya..”

“Sampe malem?” Potong Fenne, dahi nya mengerut, kedua manik matanya runcing menatap Kakaknya, namun Rae tidak menangkap gelagat kekhawatiran itu.

“Iya, kadang aku suka ngga kuat, Fen. Kepala ku pusing tepat pada pertengahan , kadang catetan suka terpotong, karena aku hilang fokus, tapi aku coba ingat beberapa hal yang pernah Ayah bilang..”

“Oh iya, aku tahu” Potong Fenne, tidak ingin suasana ini jadi pilu dan hilang arah hanya karena pertanyaan dari dirinya.

“Saatnya makan siaaaaang” Mba Jum datang dengan sebuah piring berisi roti panggang.

“Tadi Mba Jum nawarin aku apa?” Tanya Fenne meledek.

“Mie enak, yang pernah kita bikin bareng-bareng duluuu banget”

“Iya, pasta. Dulu banget waktu aku masih belum di vonis sakit, ya, kan, Mba Jum?” Sambar Rae bergairah.

Mba Jum hanya diam menatap Fenne, begitu pula dengan Fenne, kenapa aku bisa lupa kalo Kak Rae nggak boleh konsumsi makanan seperti itu? Gumamnya dalam hati.

“Non Rae mau bantuin Mba Jum?”  Mba terseyum manis, mengalihkan suasana.

            “Tapi khusus hari ini aku mau makan itu, demi Fenne” Rae memohon.

            Deg. Hening kembali, apa maksud dari semua yang dikatakan Rae?

            “Khusus hari ini ajah Mba Jum, aku mau makan sama-sama kaya dulu, anggap aku lagi ngga sakit” Bola matanya berkaca-kaca.

            “Kita masih bisa makan yang lain Kak” Sambung Fenne.

            “Dokter ngga akan marah, Mba Jum, kalo dia ngga tau. Begitu juga dengan Ayah” Semua permohonan menuju pada Mba Jum, karena hanya dia yang serba paham bagaimana Tuan nya tahu jika Rae sampai kambuh, apalagi saat adiknya datang.
 
            “Mba Jum ngga akan melarang Non Rae sekarang, tapi kurang cinta apa setiap kali Mba Jum pesan?”

            “Kurang cinta apa, aku pada Ayah? Aku ngga pernah lupa jadwal cuci darah dan kuliah, meski kadang aku merasa letih, kenapa yang lain tidak seperti aku atau sebaliknya? Untuk hari ini aku pengin seperti dulu, aku janji, besok kita cuci darah, kabarkan pada Ayah, biar dia tidak kecewa” Mohon Rae sungguh sangat mengiba.

            Fenne masih diam ditempatnya, rusak sudah suasana karena dirinya, walaupun dirinya tidak bisa menghitung berapa banyak cinta yang telah diberikan Rae, beberapa hal kecil sering terlupakan, dirinya pernah mendengar Rae mengatakan, justru saat aku sakit dan bisa membuatmu bahagia, itu karena kerja semesta begitu indah, bisa mencintai lebih dan lebih, kekuatan cinta tidak pernah pudar kapanpun masanya tiba, akan selalu ada jika semesta memberikan kesempatan.

            Rae terseyum, mencoba untuk melunakkan suasana. Fenne  mengerti bahwa Rae tidak bisa memberikan apa-apa, tapi Rae berusaha untuk dia membuat orang-orang yang dicintainya tidak kecewa hanya karena dirinya tidak bisa berbuat lebih karena penyakitnya.

            “Karena sakit ku ini, cinta ini bisa lebih hebat dari biasanya” Rae menggenggam tangan Mba Jum, menatap kosong pada kedua bola mata Mba Jum. Semesta sudah menugaskan lebih pada peranmu, Non Rae. Mba Jum mencintaimu lebih dari yang bisa dilihat orang-orang. Mba Jum seolah bersyair dalam hati nya.

Setiap ada kesempatan untuk mencintai, coba sekali lagi ingat saat ada seseorang yang mencintaimu dengan cara apapun, meluangkan waktu, sedikit candaan, secuil sapaan, atau sebuah simpul senyuman, bahagia, bukan? Karena saat bahagia itu datang, percayalah cinta bersamanya. Sebegitu hebatnya penghantar ruang antara hati dan suasana nyata.

            Jika tidak banyak cinta yang harus kuberikan padamu, paling tidak aku masih percaya bila cinta itu ada, ada dimana saja, pada siapa saja dan bisa datang kapan saja.

            Ada bahagia saat cinta di pandangan pertama? Menerobos lewat kedua bola mata, lalu menarik urat bibir seolah mengajak untuk memberikan sebuah senyuman, lalu pelan-pelan menyelundup ke hati mencari tempat yang kosong, dan berubah jadi rasa penasaran, bahagia kah cinta pertamamu? Apa kabar cintamu hari ini? Masih sama bahagianya saat kita pertama kali dipertemukan?



Ukie Efandai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar