Apa kabar Cinta hari ini?
Masih sama rasanya saat pertama kali kita bertemu?
Sore
ini Rae tidak bisa melanjutkan jadwal kuliahnya, dirinya sontak lari dan sergap
mencari angkutan umum setelah ponselnya berdering dan orang diseberang sana
mengatakan bahwa adiknya yang tinggal bersama neneknya kini pulang ke Jakarta.
Suara Mba Jum terdengar sumringah pada jawaban pertama yang keluar dari Rae
“Non,
Ray” Panggil Mba Jum semangat dalam
telefon
“Rae”
Tukasnya singkat “Mba Jum boleh salah panggil, asal jangan saat temen-temenku
dateng kerumah” Seketika meradang sesaat
mendengar Mba Jum yang selalu salah memanggil namanya.
“Iya,
Non. Simpen dulu marahnya, Non Fenne hari ini balik..”
“Serius?
Kok ngga ada kabar? Mba Jum bohong, ya? Bilang ajah aku disuruh pulang karena
ada jadwal cuci darah, bener kan?” Sesaat kemudian hening, suara Mba Jum
tertahan ditenggorokan, dirinya merasakan kekhawatiran yang amat terdalam pada
gadis belia yang kini harus diasuhnya sampai usianya 22 tahun, apakah akan
seperti ini terus? Kapan Non Rae bisa sembuh?
“Bener
kan, Mba Jum?” Suara Rae terdegar lagi. Mba Jum tersibak seketika
“Kalo
Mba Jum bohong, Non Rae beliin Mba Jum martabak raksasa, ya? Bil?”
“Bil?
Deal, maskudnya?
“Aduh
Mba Jum salah terus daritadi, intinya Non Fenne hari ini balik, Mba Jum sih
cuma kasih kabar ajah ke Non Ray…”
“RAE”
Potongnya lebih tegas
“Iya
Noon..”
“Udah
udah, aku pulang”
Tut..tut..tut..
Mba
Jum sesaat terpana, Non Rae kenapa pulang? Perasaan Mba Jum ngga nyuruh pulang,
aduh gimana kalau bapak tau Non Rae dirumah, yang ada disuruh ke rumah sakit
untuk cuci darah. Mba Jum selalu membuat alasan yang berisi pesan moral saat
dirinya harus menjalani cuci darah, asal Non Rae tahu, itu semua Mba Jum lakukan karena Mba Jum tahu
seperti apa cinta seorang ayah kepada putri nya. Maafin Mba Jum sudah berani
mencintai Non Rae, Mba Jum selalu mengingat bagaimana kerja semesta untuk bisa
membangkitkan rasa-rasa kecil yang tumbuh lalu senantiasa menyerupai beberapa
tangkai bunga untuk beberapa orang tercinta.
Atau kerja matahari untuk kita saling mencinta
disetiap pagi atau kerja rembulan untuk kita saling mencinta setiap waktu
menunjukan saat untuk beristirahat dan simpanlah cintamu untuk esok, bawalah
dirimu untuk mecintai hari esok, jangan pernah lupa untuk saling mencinta,
karena dari sanalah semesta bekerja lebih extra, perlahan menunjukkanmu dimana
cinta berada dan menunjukan seperti apa bahagia tercipta.
“Non Fenne mau makan
apa? Mba Jum buatin mie enak, mau?”
“Aku mau ketemu Kak Rae
dulu, aku mau lihat keadaannya sekarang, pasti wajahnya lebih pucat, ya?” Mba
Jum tidak menjawab, tatapan masih fokus pada cangkir berisi teh hangat yang
tengah diaduknya dengan sesendok gula, namun telinganya mendengar jelas lesuh
cemas suara Fenne, namun bibirnya terus mengatup, ternggorokan enggan bersuara,
hanya senyum tipis yang terlihat disana.
Bruk…
Keduanya menoleh ke
arah pintu depan, lalu saling pandang, mengerutkan dahi “Kucing?”
“Fenneeeeeee…” Suara
itu terdengar dari depan, keduanya tersenyum lebar, bagaikan Pak Pos membawa
surat cinta
Rae berlari setelah
menutup pintu dan sesaat melihat wajah Fenne dirinya langsung duduk
disampingnya, memeluk erat, beberapa detik, lama ternyata, dan airmata keluar
dari kedua pasang mata itu. Mba Jum memandang diam, dirinya gusar, lalu bangkit
berjalan ke arah dapur hendak mengambil sepiring nasi dan lauk untuk Rae makan
siang.
“Fen, hari ini aku ada
kuliah pidana, sampe malem biasanya, tapi jam segini aku udah pulang, bahagia
banget rasanya..”
“Sampe malem?” Potong
Fenne, dahi nya mengerut, kedua manik matanya runcing menatap Kakaknya, namun
Rae tidak menangkap gelagat kekhawatiran itu.
“Iya, kadang aku suka
ngga kuat, Fen. Kepala ku pusing tepat pada pertengahan , kadang catetan suka
terpotong, karena aku hilang fokus, tapi aku coba ingat beberapa hal yang
pernah Ayah bilang..”
“Oh iya, aku tahu”
Potong Fenne, tidak ingin suasana ini jadi pilu dan hilang arah hanya karena
pertanyaan dari dirinya.
“Saatnya makan
siaaaaang” Mba Jum datang dengan sebuah piring berisi roti panggang.
“Tadi Mba Jum nawarin
aku apa?” Tanya Fenne meledek.
“Mie enak, yang pernah
kita bikin bareng-bareng duluuu banget”
“Iya, pasta. Dulu
banget waktu aku masih belum di vonis sakit, ya, kan, Mba Jum?” Sambar Rae
bergairah.
Mba Jum hanya diam
menatap Fenne, begitu pula dengan Fenne, kenapa aku bisa lupa kalo Kak Rae
nggak boleh konsumsi makanan seperti itu? Gumamnya dalam hati.
“Non Rae mau bantuin
Mba Jum?” Mba terseyum manis,
mengalihkan suasana.
“Tapi
khusus hari ini aku mau makan itu, demi Fenne” Rae memohon.
Deg.
Hening kembali, apa maksud dari semua yang dikatakan Rae?
“Khusus
hari ini ajah Mba Jum, aku mau makan sama-sama kaya dulu, anggap aku lagi ngga
sakit” Bola matanya berkaca-kaca.
“Kita
masih bisa makan yang lain Kak” Sambung Fenne.
“Dokter
ngga akan marah, Mba Jum, kalo dia ngga tau. Begitu juga dengan Ayah” Semua
permohonan menuju pada Mba Jum, karena hanya dia yang serba paham bagaimana
Tuan nya tahu jika Rae sampai kambuh, apalagi saat adiknya datang.
“Mba
Jum ngga akan melarang Non Rae sekarang, tapi kurang cinta apa setiap kali Mba
Jum pesan?”
“Kurang
cinta apa, aku pada Ayah? Aku ngga pernah lupa jadwal cuci darah dan kuliah,
meski kadang aku merasa letih, kenapa yang lain tidak seperti aku atau
sebaliknya? Untuk hari ini aku pengin seperti dulu, aku janji, besok kita cuci
darah, kabarkan pada Ayah, biar dia tidak kecewa” Mohon Rae sungguh sangat
mengiba.
Fenne masih diam ditempatnya, rusak
sudah suasana karena dirinya, walaupun dirinya tidak bisa menghitung berapa banyak
cinta yang telah diberikan Rae, beberapa hal kecil sering terlupakan, dirinya
pernah mendengar Rae mengatakan, justru saat aku sakit dan bisa membuatmu
bahagia, itu karena kerja semesta begitu indah, bisa mencintai lebih dan lebih,
kekuatan cinta tidak pernah pudar kapanpun masanya tiba, akan selalu ada jika
semesta memberikan kesempatan.
Rae
terseyum, mencoba untuk melunakkan suasana. Fenne mengerti bahwa Rae tidak bisa memberikan
apa-apa, tapi Rae berusaha untuk dia membuat orang-orang yang dicintainya tidak
kecewa hanya karena dirinya tidak bisa berbuat lebih karena penyakitnya.
“Karena
sakit ku ini, cinta ini bisa lebih hebat dari biasanya” Rae menggenggam tangan
Mba Jum, menatap kosong pada kedua bola mata Mba Jum. Semesta sudah menugaskan
lebih pada peranmu, Non Rae. Mba Jum mencintaimu lebih dari yang bisa dilihat
orang-orang. Mba Jum seolah bersyair dalam hati nya.
Setiap ada kesempatan
untuk mencintai, coba sekali lagi ingat saat ada seseorang yang mencintaimu
dengan cara apapun, meluangkan waktu, sedikit candaan, secuil sapaan, atau
sebuah simpul senyuman, bahagia, bukan? Karena saat bahagia itu datang,
percayalah cinta bersamanya. Sebegitu hebatnya penghantar ruang antara hati dan
suasana nyata.
Jika
tidak banyak cinta yang harus kuberikan padamu, paling tidak aku masih percaya
bila cinta itu ada, ada dimana saja, pada siapa saja dan bisa datang kapan
saja.
Ada
bahagia saat cinta di pandangan pertama? Menerobos lewat kedua bola mata, lalu
menarik urat bibir seolah mengajak untuk memberikan sebuah senyuman, lalu pelan-pelan
menyelundup ke hati mencari tempat yang kosong, dan berubah jadi rasa
penasaran, bahagia kah cinta pertamamu? Apa kabar cintamu hari ini? Masih sama
bahagianya saat kita pertama kali dipertemukan?
Ukie Efandai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar