Setahun
sudah pertengkaran hebat itu terjadi, pertengkaran yang mengedapankan ego dan
diakhiri dengan satu teriakan keras Jeviar yang menyudutkan Syair, sampai
akhirnya keduanya berpisah dan seolah tak pernah kenal. Namun itu hanya sesaat
dirasa oleh Jeviar, lalu selang waktu berjalan dirinya mulai menyadari perlahan
siapa Syair sebenarnya, dirinya baru menyadari siapa sosok perempuan yang kerap
menjadi bunga tidurnya lalu seolah menjadi musuh terbesarnya, Syair bukan lah
gadis biasa, Jeviar tidak pernah
menyadari mengapa Syair bisa menerima cintanya pada saat mereka baru masuk
Sekolah Menengah Pertama , saat ketika Syair lebih banyak mengalah lalu
menyerah, lalu menyingkir lalu sebisa mungkin untuk tidak pernah lagi terlihat
oleh kedua mata Jeviar yang kala itu ego sedang membabi buta.
Namun
saat Syair menemukan seseorang pengganti dirinya, Jeviar justru memohon dengan
seribu dalih dengan Nasha, sahabat Syair. Untuk dirinya bisa meminta maaf
dengan cara menggenggam kedua tangan Syair atau merangkulnya, namun Nasha tidak
bisa berbuat banyak karena Syair sudah dimiliki oleh orang lain dan pesta
pertunangan itu nyaris membuat Jeviar gila, hanya saja banyak pujangga berkata “laki-laki
yang patah hati, boleh bunuh diri asal jangan ada yang tahu bahwa itu karena
cinta, karena bila ada yang tahu, sama saja engkau mati gila”.
Ternyata
sosok laki-laki itu bukan yang seperti Syair impikan, Fadil. Yang katanya
segera melakukan pesta pertunangannya dengan Syair kini justru hilang ditelan bumi, hati
perempuan mana yang tidak kalap dirundung peristiwa seperti ini, Syair menangis,
hilang arah, dan tak tahu harus dengan jawaban apa lagi bila ada yang bertanya
kabar Fadil, rasanya muak dan hanya membuat kepala mendidih jika mendengar namanya,
tak ada lagi harapan untuk bisa menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dari
Jeviar.
Nasha
berjalan dari pintu masuk di dampingi oleh Jeviar di pesta pernikahan kakak
kandung dari sahabat Nasha dan Syair, yaitu Syilan. Sesungguhnya Jeviar paling
ogah untuk bisa berjalan dengan jas hitam, sepatu hitam, apalagi menggandeng
perempuan yang tidak jelas siapa, seperti Nasha yang kini sedang tersenyum
manis pada tamu undangan yang lainnya, kalau bukan Nasha siapa lagi yang bisa
membantunya untuk mempertemukan dirinya dengan Syair, gumam Jeviar. Oh iya,
Syair! Kemana sosoknya dan sosok laki-laki itu.. Aaaah sudah lah, tak perlu lagi bahas Fadil,
laki-laki yang tidak punya adab, dia sudah pergi bersama kapalnya atau mungkin
tenggelam dilahap ombak, biarlah dia pergi
dan tak perlu menyentuk Syair dengan janji yang abu-abu, Jeviar tajam
menatap seisi gedung pesta pernikahan.
Lalu
seolah tubuhnya tersentak, bila memang Fadil bukan untuk Syair mungkin Tuhan
sedang mempersiapkan seseorang yang lebih baik dari Fadil, namun bukan dirinya.
Jeviar mengepal jemari kirinya dan berfikir, Fadil laki-laki tak punya adab,
lalu dirinya? Dirinya juga laki-laki yang meninggalkan Syair dengan alasan yang
tidak masuk akal, aku yang biadab, seru Jeviar dengan suara pelan.
“Kamu
mau makan apa, Jev?” Jeviar mengerutkan dahi saat setelah mendengar ucapan
Nasha.
“Kita
baru dateng kali, ke pelaminan dulu, barangkali ada Syair disana” Telunjuk
Jeviar menunjuk ke arah orang yang sedang memberi ucapan kepada pasangan
pengantin.
“Udah
siap?” Jeviar hanya mengerutkan dahi “Udah siap ketemu Syair dengan gandengan
barunya?” Jeviar hanya tersenyum tipis
“Syair
bukan cewek yang suka gandeng siapa ajah untuk hadir diacara kaya beginian” Jeviar
mengalihkan wajahnya “Ngga kaya elo, inget ya! Gue mantan sahabat elo, gue
begini karena satu tujuan yaitu Syair” Jeviar meninggalkan Nasha yang belum
sempat bersuara. Nasha hanya memandang Jeviar yang menjauhinya, nampaknya
Jeviar menyadari isi hati Nasha, mungkinkah Nasha jatuh hati pada Jeviar?
Jeviar memang
laki-laki yang suka berontak, dia sering kali acuh dengan apa yang telah
menjadi aturan dalam dua anak manusia untuk bisa menjalin tali yang katanya
bernama cinta, namun kini Jeviar sadar bahwa ada setan yang harus disingkirkan
dari jiwanya bila dirinya menginginkan Syair untuk bisa kembali.
Jeviar yang berjalan sendiri ke pelaminan, sudah
terlihat dari jauh dengan kedua mata Syair, Syair tidak bisa berkata apa-apa,
jantungnya berdetak seolah memanggil namanya untuk lari dari tempat ini,
sekarang!. Namun kedua bola matanya terus mengamati Jeviar yang semakin
mendekat, ada rasa rindu yang seolah tertiup semilir angin menerobos hati,
namun jantungnya masih tidak mau mengalah, jantung dan hati seolah berebut
tempat untuk bisa mengalahkan satu sama lain. Pergi dari tempat ini atau biarkan
Jeviar mendekat, namun terlambat tubuh Jeviar sudah di depan mata, dan
senyumannya…. Deg. Sepasang mata itu menatap lekat bola mata Syair, di ulurkan
tangannya untuk berjabat, namun Syair hanya diam, ada rasa takut yang menjalan
ke tangan sampai tidak bisa membalas jabat tangannya.
Akhirnya
Jeviar yang meraih tangan Syair, sontak ada raut kaget adalam parasnya, Syair
merasakan basah telapak tangan Jeviar, tak lama Jeviar mendekatkan wajah Syair,
satu kalimat tanya menghantam hatinya.
“Apa
yang mau kamu sampaikan?” bisik Jeviar lalu meninggalkan Syair dibarisan, wajah
Syair berubah layu, hilang warna sudah hari itu, kedatangan Jeviar memang sudah
merusak suasana hatinya, sampai tragedi jantung dan hati berebut tempat. Namun Syair
tak tinggal diam, dilangkahkan kakinya pergi mengikuti Jeviar, nyatanya Jeviar
tidak menunggu Syair, dia terus berjalan keluar dan Syair sengaja tidak
memanggil, sampai akhirnya Syair dapat meraih lengan Jeviar.
“Ada
yang mau kamu sampaikan?” Jeviar kaget dan tidak menyangka, dirinya mengira
Syair tak menghiraukan pertanyaannya, nyatanya gadis ini mengejar dirinya
sampai keluar.
“Ada”
Jawab Jeviar pelan dengan wajah yang datar, Syair melepaskan genggamannya “Ada
yang tertinggal waktu kamu harus pergi”
“Waktu
aku harus pergi? Kenapa harus aku yang pergi?” Jeviar tidak bisa menjawab, apa
yang harusnya dijawabnya bila kenyataan dirinya tak bermaksud mengusir Syair
namun Syair pergi juga dengan alasan Jeviar dengan bentakan yang menyayat hati.
“Aku
mau kamu tahu apa yang sekarang aku rasa”
“Kamu
mau aku tahu apa yang kamu rasa? Kamu sudah tahu apa yang aku rasa?” lagi-lagi
Jeviar kalah sebagai laki-laki yang harusnya bisa bergulat dalam kata, karena
bagaimana pun tidak akan pernah ada perisitiwa seperti ini kalau bukan karena
ego nya yang terlampau gila.
“Aku
baru sadar kenapa kamu memang susah dilepas”
“Aku
sudah terlepas, Jev”
“Maksud
aku untuk di ikhlas kan, melepas bukan sepenuhnya merelakan pergi bersama yang
lain”
“Kalau bukan
sama yang lain, harus sama siapa? Sama kamu?” Telunjuk Syair mendorong dada
Jeviar.
“Aku
menyesal, Sya! Aku nyesel! Apalagi kalau dengar nama Fadil…” Wajahnya berubah
merah dan menyala
“Aku
ngga melarang kamu untuk menyesal, tapi kamu harus tahu kenapa aku mau terima
cinta kamu waktu itu” Kedua bola mata mereka bertemu, cukup lama, Jeviar tidak
meminta jawaban, Syair juga mengulur waktu agar Jeviar tahu apa yang tengah
terhambat ditenggorokannya.
“Karena
aku ngga tau harus berasalasan apa untuk nolak kamu, aku ngga pernah punya
alasan untuk bisa membuat kamu cemburu, untuk mengkhianati kamu, kamu laki-laki
yang aku pilih tanpa alasan, tapi aku punya alasan untuk mempertahankan kamu,
karena itu tadi kamu dicintai bukan karena alasan, itu adalah alasan untuk aku
bisa terus menemani kamu” Kedua membisu, terlebih Jeviar yang kini seolah
sedang menenggak segelas racun.
“Sampai
kamu memilih aku untuk pergi, aku masih ngga punya alasan untuk menolak, dan
sekarang aku ngga punya alasan untuk bisa menerima kamu lagi” Jeviar terdiam,
pandangannya samar, ditundukan kepalanya, lalu Syair pergi, Jeviar terdiam,
tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ini semua drama tanpa alasan, nyatanya
ada alasan yang tertinggal selama ini, selama Syair terus lari saat dirinya
berjalan menuju kelasnya atau selama Syair berbelok arah kala masuk
perpustakaan menjumpai dirinya, hilang sudah yang pernah di angan-angankan,
genap sudah kekalahannya, ternyata memang Syair bukanlah gadis yang mudah
ditaklukan setelah dibuang, juga bukan yang mudah diraih setelah tersia-siakan.
Jeviar terpaksa harus menelan rasa pahit dari apa telah diucap Syair, harus diberi
apa hatinya agar bisa mendapat kekuatan lebih untuk melihat Syair bersama
laki-laki lain.
Ukie Efandari
LANJUTKAN...
BalasHapusceritanya sama dengan apa yang aku alami skrg kie :) lnjutkan
BalasHapus