Hidup ini seperti artikel tentang cinta, tanpa cinta hidupmu MAYA, dengan cinta hidupmu NYATA...


Bila tak banyak cerita dalam hidupmu, paling tidak satu telah terukir di atas daun, ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Minggu, 06 April 2014

Tertinggal





                Setahun sudah pertengkaran hebat itu terjadi, pertengkaran yang mengedapankan ego dan diakhiri dengan satu teriakan keras Jeviar yang menyudutkan Syair, sampai akhirnya keduanya berpisah dan seolah tak pernah kenal. Namun itu hanya sesaat dirasa oleh Jeviar, lalu selang waktu berjalan dirinya mulai menyadari perlahan siapa Syair sebenarnya, dirinya baru menyadari siapa sosok perempuan yang kerap menjadi bunga tidurnya lalu seolah menjadi musuh terbesarnya, Syair bukan lah gadis biasa, Jeviar  tidak pernah menyadari mengapa Syair bisa menerima cintanya pada saat mereka baru masuk Sekolah Menengah Pertama , saat ketika Syair lebih banyak mengalah lalu menyerah, lalu menyingkir lalu sebisa mungkin untuk tidak pernah lagi terlihat oleh kedua mata Jeviar yang kala itu ego sedang membabi buta.

                Namun saat Syair menemukan seseorang pengganti dirinya, Jeviar justru memohon dengan seribu dalih dengan Nasha, sahabat Syair. Untuk dirinya bisa meminta maaf dengan cara menggenggam kedua tangan Syair atau merangkulnya, namun Nasha tidak bisa berbuat banyak karena Syair sudah dimiliki oleh orang lain dan pesta pertunangan itu nyaris membuat Jeviar gila, hanya saja banyak pujangga berkata “laki-laki yang patah hati, boleh bunuh diri asal jangan ada yang tahu bahwa itu karena cinta, karena bila ada yang tahu, sama saja engkau mati gila”.

                Ternyata sosok laki-laki itu bukan yang seperti Syair impikan, Fadil. Yang katanya segera melakukan pesta pertunangannya dengan Syair  kini justru hilang ditelan bumi, hati perempuan mana yang tidak kalap dirundung peristiwa seperti ini, Syair menangis, hilang arah, dan tak tahu harus dengan jawaban apa lagi bila ada yang bertanya kabar Fadil, rasanya muak dan hanya membuat kepala mendidih jika mendengar namanya, tak ada lagi harapan untuk bisa menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dari Jeviar.

                Nasha berjalan dari pintu masuk di dampingi oleh Jeviar di pesta pernikahan kakak kandung dari sahabat Nasha dan Syair, yaitu Syilan. Sesungguhnya Jeviar paling ogah untuk bisa berjalan dengan jas hitam, sepatu hitam, apalagi menggandeng perempuan yang tidak jelas siapa, seperti Nasha yang kini sedang tersenyum manis pada tamu undangan yang lainnya, kalau bukan Nasha siapa lagi yang bisa membantunya untuk mempertemukan dirinya dengan Syair, gumam Jeviar. Oh iya, Syair! Kemana sosoknya dan sosok laki-laki itu..  Aaaah sudah lah, tak perlu lagi bahas Fadil, laki-laki yang tidak punya adab, dia sudah pergi bersama kapalnya atau mungkin tenggelam dilahap ombak, biarlah dia pergi  dan tak perlu menyentuk Syair dengan janji yang abu-abu, Jeviar tajam menatap seisi gedung pesta pernikahan.

                Lalu seolah tubuhnya tersentak, bila memang Fadil bukan untuk Syair mungkin Tuhan sedang mempersiapkan seseorang yang lebih baik dari Fadil, namun bukan dirinya. Jeviar mengepal jemari kirinya dan berfikir, Fadil laki-laki tak punya adab, lalu dirinya? Dirinya juga laki-laki yang meninggalkan Syair dengan alasan yang tidak masuk akal, aku yang biadab, seru Jeviar dengan suara pelan.

                “Kamu mau makan apa, Jev?” Jeviar mengerutkan dahi saat setelah mendengar ucapan Nasha.

                “Kita baru dateng kali, ke pelaminan dulu, barangkali ada Syair disana” Telunjuk Jeviar menunjuk ke arah orang yang sedang memberi ucapan kepada pasangan pengantin.

                “Udah siap?” Jeviar hanya mengerutkan dahi “Udah siap ketemu Syair dengan gandengan barunya?” Jeviar hanya tersenyum tipis

                “Syair bukan cewek yang suka gandeng siapa ajah untuk hadir diacara kaya beginian” Jeviar mengalihkan wajahnya “Ngga kaya elo, inget ya! Gue mantan sahabat elo, gue begini karena satu tujuan yaitu Syair” Jeviar meninggalkan Nasha yang belum sempat bersuara. Nasha hanya memandang Jeviar yang menjauhinya, nampaknya Jeviar menyadari isi hati Nasha, mungkinkah Nasha jatuh hati pada Jeviar?

                Jeviar memang laki-laki yang suka berontak, dia sering kali acuh dengan apa yang telah menjadi aturan dalam dua anak manusia untuk bisa menjalin tali yang katanya bernama cinta, namun kini Jeviar sadar bahwa ada setan yang harus disingkirkan dari jiwanya bila dirinya menginginkan Syair untuk bisa kembali.

                Jeviar  yang berjalan sendiri ke pelaminan, sudah terlihat dari jauh dengan kedua mata Syair, Syair tidak bisa berkata apa-apa, jantungnya berdetak seolah memanggil namanya untuk lari dari tempat ini, sekarang!. Namun kedua bola matanya terus mengamati Jeviar yang semakin mendekat, ada rasa rindu yang seolah tertiup semilir angin menerobos hati, namun jantungnya masih tidak mau mengalah, jantung dan hati seolah berebut tempat untuk bisa mengalahkan satu sama lain. Pergi dari tempat ini atau biarkan Jeviar mendekat, namun terlambat tubuh Jeviar sudah di depan mata, dan senyumannya…. Deg. Sepasang mata itu menatap lekat bola mata Syair, di ulurkan tangannya untuk berjabat, namun Syair hanya diam, ada rasa takut yang menjalan ke tangan sampai tidak bisa membalas jabat tangannya.

                Akhirnya Jeviar yang meraih tangan Syair, sontak ada raut kaget adalam parasnya, Syair merasakan basah telapak tangan Jeviar, tak lama Jeviar mendekatkan wajah Syair, satu kalimat tanya menghantam hatinya.

                “Apa yang mau kamu sampaikan?” bisik Jeviar lalu meninggalkan Syair dibarisan, wajah Syair berubah layu, hilang warna sudah hari itu, kedatangan Jeviar memang sudah merusak suasana hatinya, sampai tragedi jantung dan hati berebut tempat. Namun Syair tak tinggal diam, dilangkahkan kakinya pergi mengikuti Jeviar, nyatanya Jeviar tidak menunggu Syair, dia terus berjalan keluar dan Syair sengaja tidak memanggil, sampai akhirnya Syair dapat meraih lengan Jeviar.

                “Ada yang mau kamu sampaikan?” Jeviar kaget dan tidak menyangka, dirinya mengira Syair tak menghiraukan pertanyaannya, nyatanya gadis ini mengejar dirinya sampai keluar.

                “Ada” Jawab Jeviar pelan dengan wajah yang datar, Syair melepaskan genggamannya “Ada yang tertinggal waktu kamu harus pergi”

                “Waktu aku harus pergi? Kenapa harus aku yang pergi?” Jeviar tidak bisa menjawab, apa yang harusnya dijawabnya bila kenyataan dirinya tak bermaksud mengusir Syair namun Syair pergi juga dengan alasan Jeviar dengan bentakan yang menyayat hati.

                “Aku mau kamu tahu apa yang sekarang aku rasa”

                “Kamu mau aku tahu apa yang kamu rasa? Kamu sudah tahu apa yang aku rasa?” lagi-lagi Jeviar kalah sebagai laki-laki yang harusnya bisa bergulat dalam kata, karena bagaimana pun tidak akan pernah ada perisitiwa seperti ini kalau bukan karena ego nya yang terlampau gila.

                “Aku baru sadar kenapa kamu memang susah dilepas”

                “Aku sudah terlepas, Jev”

                “Maksud aku untuk di ikhlas kan, melepas bukan sepenuhnya merelakan pergi bersama yang lain”

                “Kalau bukan sama yang lain, harus sama siapa? Sama kamu?” Telunjuk Syair mendorong dada Jeviar.

                “Aku menyesal, Sya! Aku nyesel! Apalagi kalau dengar nama Fadil…” Wajahnya berubah merah dan menyala

                “Aku ngga melarang kamu untuk menyesal, tapi kamu harus tahu kenapa aku mau terima cinta kamu waktu itu” Kedua bola mata mereka bertemu, cukup lama, Jeviar tidak meminta jawaban, Syair juga mengulur waktu agar Jeviar tahu apa yang tengah terhambat ditenggorokannya.

                “Karena aku ngga tau harus berasalasan apa untuk nolak kamu, aku ngga pernah punya alasan untuk bisa membuat kamu cemburu, untuk mengkhianati kamu, kamu laki-laki yang aku pilih tanpa alasan, tapi aku punya alasan untuk mempertahankan kamu, karena itu tadi kamu dicintai bukan karena alasan, itu adalah alasan untuk aku bisa terus menemani kamu” Kedua membisu, terlebih Jeviar yang kini seolah sedang menenggak segelas racun.

                “Sampai kamu memilih aku untuk pergi, aku masih ngga punya alasan untuk menolak, dan sekarang aku ngga punya alasan untuk bisa menerima kamu lagi” Jeviar terdiam, pandangannya samar, ditundukan kepalanya, lalu Syair pergi, Jeviar terdiam, tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ini semua drama tanpa alasan, nyatanya ada alasan yang tertinggal selama ini, selama Syair terus lari saat dirinya berjalan menuju kelasnya atau selama Syair berbelok arah kala masuk perpustakaan menjumpai dirinya, hilang sudah yang pernah di angan-angankan, genap sudah kekalahannya, ternyata memang Syair bukanlah gadis yang mudah ditaklukan setelah dibuang, juga bukan yang mudah diraih setelah tersia-siakan. Jeviar terpaksa harus menelan rasa pahit dari apa telah diucap Syair, harus diberi apa hatinya agar bisa mendapat kekuatan lebih untuk melihat Syair bersama laki-laki lain.



Ukie Efandari

2 komentar: