Hidup ini seperti artikel tentang cinta, tanpa cinta hidupmu MAYA, dengan cinta hidupmu NYATA...


Bila tak banyak cerita dalam hidupmu, paling tidak satu telah terukir di atas daun, ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

Sabtu, 30 November 2013

Mimpi



Fa’iz. Sidney, Australia.


Tak ada yang mampu mengusir segala penyesalanku akan dirimu, sekeras apapun ku usir dalam laju otakku, namun rasa bersalah ini kembali seraya menyalahkan.Tak pernah kah kau menginginkan saat pertama kali ku membuka mata hanya ada wajahmu disana? Namun kosong, tak ada siapa-siapa. Hilang sudah yang dulu peranh ku miliki saat cintaku berlari mengejar yang lain. Aku melihatmu bersimpuh kaku, dengan derasnya air matamu kau tengadahkan tanganmu, tanpa harus kau katakan, aku mengetahui kau sedang memohon pinta-Nya untukku.

Aku berdiri layu ditempat ini, aku menemukan gambarku di tembok kamarmu, aku tahu gambar itu, keluargaku dan keluargamu berkumpul satu saat kita masih di Indonesia. Aku tahu kau mencintaiku. Apa kabarmu,Azzahra? Kapan dirimu kembali lagi ke sini?

Namun kepulanganmu ke Indonesia membuatku kehilangan, aku menyadari sikapku selama ini kepadamu, aku tahu itu. Namun setan apa yang sebegini egoisnya mengatakan rindu pada seseorang yang pernah ku abaikan berkali-kali, pasti kamu di Indonesia bertemu dengan Ilham, seseorang yang juga merindukanmu disana, atau mungkin akan kau ajak Ilham kesini? Entahlah, ku mohon jangan, aku menunggu kehadiranmu dengan senyummu, dan katakan “aku cinta padamu”

Azzahra, ingin sekali aku berteriak memanggil namamu diruang ini, dikamarmu yang sengaja ku bajak tanpa sepengetahuan Ummi, hanya Kalifah yang tahu dan Kalifah lah orang yang setiap kali kau tiban keluh kala mengeluhkan aku, benar? Aku tersenyum bahagia, nyatanya kau lebih cantik dari biasanya, ya dari biasa setiap kali dirimu berlari ke lapangan basket, ke ruang kelasku, atau setiap kali aku sedang dalam latihan penerbangan. Namun yang ku ingat, saat bertemu denganmu, yang kutanya selalu Sabrina, sudahlah cukup, tak perlu lagi bahas Sabrina, dia sudah dijodohkan dengan temanku di satu penerbangan, namun kenapa rasa sakit saat kehilangan Sabrina tak sesakit seperti saat ini, saat ditinggal dirimu? Padahal Sabrina sudah akan jadi milik orang lain, hmmm mungkin ada yang ingin ku sampaikan untukmu kala kau sudah ada didepan mataku. Azzahra,  kini aku sedang duduk di kursi kesayanganmu, sambil menatap seluruh isinya, membayangkan apa yang kau lakukan disetiap malam,di kursi ini tepat dimana setiap malam kau mengajak Kalifah untuk mendengarkan ceritanmu, cerita tragismu lebih tepatnya. Haruskah aku menelfonmu saat ini juga? Atau mengirim email atau apapun itu untukku bisa mengetahui apa yang sedang kau laklukan disana? hatiku malu tiba-tiba, seolah dirimu kini tengah menatapmu sambil tertawa, aah aku lupa tawamu, sejenak aku mencari lukisanmu, tepat dibelakang pintu, ku melihat wajahmu bersama tawa kecil yang ditutup oleh telapak tanganmu, aku meringis geli, ku sandarkan kepalaku sambil terus menatap lukisan itu…

                “Izaan” Telapak tangan Pakde Wrimo menepuk lutut Fa’izan, remang ku menatap langit pagi ini, masih sama dengan kemarin, hanya saja pagi ini Fa’izan telat, karena semalam memikirakan Azzahra dan memimpikan gadis itu, memimpikan Azzahra? Seketika Fa’izan terbangun dan menatap ruang kamarnya, dinding merah gelap, berbagai sepatu basket dilemari kaca, dan lemari kayu yang dihiasin banyak miniature pesawat, memang kamarnya. Tiba-tiba kepalanya pusing, telapak tangan kirinya menggenggam kepalanya, tak pernah dirinya separah ini memikirkan makhluk yang disebut “kaum hawa”, dan itu adalah Azzahra, perempuan yang berbulan-bulan diabaikan cintanya, bukan perempuan idamannya, Sabrina, yang tidak lain adalah saudara Azzahra.

                Fa’izan menopang kepalanya dengan kedua telapak tangannya, dirinya masih merasakan pening, sebelum tidur dirinya sempat melihat ponselnya, ingin menelfon Azzahra namun bimbang sampai akhirnya tertidur dan terbawa mimpi, lalu kamar Azzahra.. Di lihat lagi seluruh isi ruang kamarnya, memastikan bahwa itu bukanlah kamar Azzahra, memang bukan, itu mimpi.
            
                “Izan” Suara Pakde Wrimo muncul lagi dari pintu, lalu sosoknya berjalan ke tempat tidur dengan dua cangkir teh hangat “Ini bukan Indonesia, apalagi jogja” Pakde Wrimo tertawa, Fa’izan ikut tertawa.

                “Kepalaku pusing Pakde”  Tutur Fa’izan, sambil berjalan dan duduk disamping Pakde.

                “Masih pagi sudah pusing, ini negeri orang, buktikan bahwa kita tamu terhormat” Pakde menepuk bahu Fa’izan “Tinggal memang boleh numpang, namun cinta selalu ada di Indonesia” Di Indonesia? Fa’izan terdiam, dirinya teringat oleh Azzahra yang sedang di Indonesia.

                “Kalau jam segini baru tangi turu, kapan mau ngejar bidadari? Atau kamu mengejarnya dengan pesawatmu? Bidadari terbang dengan kain, kamu mengejar dengan baling-baling? Iyo?” keduanya tertawa bersamaan “Kamu ingin perempuan yang seperti apa?”

                “Azzahra” Fa’izan kaget dengan jawabannya yang tercetus tiba-tiba saat ketika Pakde melihat wajahnya sambil mengerutkan dahi, kenapa bisa dirinya menjawab bahwa Azzahra yang dia inginkan.

                “Bukan Sabrina?” Pakde mencopot kacamatanya.

                “Sabrina wis jadi punya orang, Pakde”

                “Reza?”

                Iyoo

                “Sabrina anaknya Pak Atmo?”

                “Azzahra”

                “Oh iyo iyo, Azzahra anaknya Pak Atmo?”

                “Iyo”

                Kowe tresno karo Azzahra ?” Fa’izan menahan tawa gelinya saat ketiak melihat Pakde melirik sambil mengangkat alis nya.

                “Aku juga ngga ngerti dengan cinta, tapi Azzahra lama-lama diperhatiin itu cantiknya keliatan…”

                “Kamu cinta karena cantik?” Potong Pakde.

                “Cantik pengorbanannya”

                “Pernah berkorban untukmu?” lagi-lagi pengorbanan, berapa kali pengorbanan Azzahra yang sudah dilakukan untuk dirinya? Tak terhitung, untuk yang di abaikan hampir setiap kali pertemuan, belum lagi pengorbanan yang tidak ketahuan karena sering kali tak terlihat penglihatan, manusia macam apa aku ini, Fa’izan berbisik dalam hatinya. Ya Tuhaaan pening dikepala ini belum mampu hilang, harus lagi bicara tentang Azzahra dan pengorbanannya.

                “Aku mau terbang dulu Pakde, masih ada dua jam lagi, melu aku? Nanti aku kejar bidadari yang tengah terbang dan kupersembahkan untuk Pakde, mau?” Fa’izan mnyeringai lebar tanpa suara, juga Pakde yang menahan tawa sambil memegang perutnya. Di gelengkan kepalanya, Pakde menatap cangkir teh yang belum sempat diminum Fa’izan, mungkinkah anak ini pernah mengorbankan cinta orang lain? Hebat sekali anak itu, siapa perempuan itu? Azzahra? Pengorbanan apa yang pernah dilakukan gadis yang bernama ‘Azzahra’?

read :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar