Fa’iz. Sidney, Australia.
Tak ada yang mampu mengusir segala penyesalanku akan dirimu,
sekeras apapun ku usir dalam laju otakku, namun rasa bersalah ini kembali
seraya menyalahkan.Tak pernah kah kau menginginkan saat pertama kali ku membuka
mata hanya ada wajahmu disana? Namun kosong, tak ada siapa-siapa. Hilang sudah
yang dulu peranh ku miliki saat cintaku berlari mengejar yang lain. Aku
melihatmu bersimpuh kaku, dengan derasnya air matamu kau tengadahkan tanganmu,
tanpa harus kau katakan, aku mengetahui kau sedang memohon pinta-Nya untukku.
Aku berdiri layu ditempat ini, aku menemukan gambarku di
tembok kamarmu, aku tahu gambar itu, keluargaku dan keluargamu berkumpul satu
saat kita masih di Indonesia. Aku tahu kau mencintaiku. Apa kabarmu,Azzahra?
Kapan dirimu kembali lagi ke sini?
Namun kepulanganmu ke Indonesia membuatku kehilangan, aku
menyadari sikapku selama ini kepadamu, aku tahu itu. Namun setan apa yang
sebegini egoisnya mengatakan rindu pada seseorang yang pernah ku abaikan
berkali-kali, pasti kamu di Indonesia bertemu dengan Ilham, seseorang yang juga
merindukanmu disana, atau mungkin akan kau ajak Ilham kesini? Entahlah, ku
mohon jangan, aku menunggu kehadiranmu dengan senyummu, dan katakan “aku cinta
padamu”
Azzahra, ingin sekali aku berteriak memanggil namamu diruang
ini, dikamarmu yang sengaja ku bajak tanpa sepengetahuan Ummi, hanya Kalifah
yang tahu dan Kalifah lah orang yang setiap kali kau tiban keluh kala
mengeluhkan aku, benar? Aku tersenyum bahagia, nyatanya kau lebih cantik dari
biasanya, ya dari biasa setiap kali dirimu berlari ke lapangan basket, ke ruang
kelasku, atau setiap kali aku sedang dalam latihan penerbangan. Namun yang ku
ingat, saat bertemu denganmu, yang kutanya selalu Sabrina, sudahlah cukup, tak
perlu lagi bahas Sabrina, dia sudah dijodohkan dengan temanku di satu
penerbangan, namun kenapa rasa sakit saat kehilangan Sabrina tak sesakit
seperti saat ini, saat ditinggal dirimu? Padahal Sabrina sudah akan jadi milik
orang lain, hmmm mungkin ada yang ingin ku sampaikan untukmu kala kau sudah ada
didepan mataku. Azzahra, kini aku sedang
duduk di kursi kesayanganmu, sambil menatap seluruh isinya, membayangkan apa
yang kau lakukan disetiap malam,di kursi ini tepat dimana setiap malam kau
mengajak Kalifah untuk mendengarkan ceritanmu, cerita tragismu lebih tepatnya.
Haruskah aku menelfonmu saat ini juga? Atau mengirim email atau apapun itu untukku
bisa mengetahui apa yang sedang kau laklukan disana? hatiku malu tiba-tiba,
seolah dirimu kini tengah menatapmu sambil tertawa, aah aku lupa tawamu,
sejenak aku mencari lukisanmu, tepat dibelakang pintu, ku melihat wajahmu
bersama tawa kecil yang ditutup oleh telapak tanganmu, aku meringis geli, ku
sandarkan kepalaku sambil terus menatap lukisan itu…
“Izaan”
Telapak tangan Pakde Wrimo menepuk lutut Fa’izan, remang ku menatap langit pagi
ini, masih sama dengan kemarin, hanya saja pagi ini Fa’izan telat, karena
semalam memikirakan Azzahra dan memimpikan gadis itu, memimpikan Azzahra?
Seketika Fa’izan terbangun dan menatap ruang kamarnya, dinding merah gelap,
berbagai sepatu basket dilemari kaca, dan lemari kayu yang dihiasin banyak
miniature pesawat, memang kamarnya. Tiba-tiba kepalanya pusing, telapak tangan
kirinya menggenggam kepalanya, tak pernah dirinya separah ini memikirkan
makhluk yang disebut “kaum hawa”, dan itu adalah Azzahra, perempuan yang
berbulan-bulan diabaikan cintanya, bukan perempuan idamannya, Sabrina, yang
tidak lain adalah saudara Azzahra.
Fa’izan
menopang kepalanya dengan kedua telapak tangannya, dirinya masih merasakan
pening, sebelum tidur dirinya sempat melihat ponselnya, ingin menelfon Azzahra
namun bimbang sampai akhirnya tertidur dan terbawa mimpi, lalu kamar Azzahra..
Di lihat lagi seluruh isi ruang kamarnya, memastikan bahwa itu bukanlah kamar
Azzahra, memang bukan, itu mimpi.
“Izan”
Suara Pakde Wrimo muncul lagi dari pintu, lalu sosoknya berjalan ke tempat
tidur dengan dua cangkir teh hangat “Ini bukan Indonesia, apalagi jogja” Pakde
Wrimo tertawa, Fa’izan ikut tertawa.
“Kepalaku
pusing Pakde” Tutur Fa’izan, sambil
berjalan dan duduk disamping Pakde.
“Masih
pagi sudah pusing, ini negeri orang, buktikan bahwa kita tamu terhormat” Pakde
menepuk bahu Fa’izan “Tinggal memang boleh numpang, namun cinta selalu ada di
Indonesia” Di Indonesia? Fa’izan terdiam, dirinya teringat oleh Azzahra yang
sedang di Indonesia.
“Kalau
jam segini baru tangi turu, kapan mau
ngejar bidadari? Atau kamu mengejarnya dengan pesawatmu? Bidadari terbang
dengan kain, kamu mengejar dengan baling-baling? Iyo?” keduanya tertawa bersamaan “Kamu ingin perempuan yang seperti
apa?”
“Azzahra”
Fa’izan kaget dengan jawabannya yang tercetus tiba-tiba saat ketika Pakde
melihat wajahnya sambil mengerutkan dahi, kenapa bisa dirinya menjawab bahwa
Azzahra yang dia inginkan.
“Bukan
Sabrina?” Pakde mencopot kacamatanya.
“Sabrina
wis jadi punya orang, Pakde”
“Reza?”
“Iyoo”
“Sabrina
anaknya Pak Atmo?”
“Azzahra”
“Oh iyo iyo, Azzahra anaknya Pak Atmo?”
“Iyo”
“Kowe tresno karo Azzahra ?” Fa’izan
menahan tawa gelinya saat ketiak melihat Pakde melirik sambil mengangkat alis
nya.
“Aku
juga ngga ngerti dengan cinta, tapi Azzahra lama-lama diperhatiin itu cantiknya
keliatan…”
“Kamu
cinta karena cantik?” Potong Pakde.
“Cantik
pengorbanannya”
“Pernah
berkorban untukmu?” lagi-lagi pengorbanan, berapa kali pengorbanan Azzahra yang
sudah dilakukan untuk dirinya? Tak terhitung, untuk yang di abaikan hampir
setiap kali pertemuan, belum lagi pengorbanan yang tidak ketahuan karena sering
kali tak terlihat penglihatan, manusia macam apa aku ini, Fa’izan berbisik dalam
hatinya. Ya Tuhaaan pening dikepala ini belum mampu hilang, harus lagi bicara tentang
Azzahra dan pengorbanannya.
“Aku
mau terbang dulu Pakde, masih ada dua jam lagi, melu aku? Nanti aku kejar bidadari yang tengah terbang dan
kupersembahkan untuk Pakde, mau?” Fa’izan mnyeringai lebar tanpa suara, juga
Pakde yang menahan tawa sambil memegang perutnya. Di gelengkan kepalanya, Pakde
menatap cangkir teh yang belum sempat diminum Fa’izan, mungkinkah anak ini
pernah mengorbankan cinta orang lain? Hebat sekali anak itu, siapa perempuan
itu? Azzahra? Pengorbanan apa yang pernah dilakukan gadis yang bernama ‘Azzahra’?
read :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar