“Dulu
aku pernah diajak ke tempat ini, oleh cinta pertamaku, Syil” Jane menyeruput
kopinya, Jakarta seolah berubah beberapa hari ini, pagi nya seolah membenamkan
paras yang biasanya, perlahan menunjukkan bila Jakarta juga mampu bersahabat,
dingin di kota ini terkadang membuat Jane lupa bahwa dirinya sedang di kota
Jakarta, yang terkenal gersang.
“Oh
ya? Gimana kabar dia?” Syilan tersenyum manis
“Masih
ada, disini” Sahut Jane singkat
“Disini? Bisa kamu tunjukkan padaku?” Jane
tersenyum menatap Syilan, Syilan mengerutkan dahinya “Selama ini kamu ngga
pernah cerita siapa cinta pertamamu”
“Aku
sudah bilang, dia ada disini”
“Dimana
aku bisa mendapatkan sosoknya diruang ini?”
“Di
kursi paling kiri, dia sedang duduk menunggu seseorang” Syilan mencoba mencari
letak kursi itu, namun nihil, tak ada siapapun disana. Syilan masih tercengang,
dirinya mulai kebingungan.
“Hanya
tumpukan surat kabar dimeja nya”
“Dengan
kaus biru yang basah karena tampias hujan, dia duduk sendiri dengan sebuah
tulip ditangannya, menunggu seseorang yang disebutnya sebagai kesayangan” Jane
menatap gelas kopinya, tatapannya dalam menerobos isi cangkir itu. Syilan
semakin bingung, dicarinya laki-laki berkaus biru yang tengah basah kuyup dan
duduk di kursi paling kiri. Jane tersenyum, matanya terpejam.
“Jane...”
“Mana
yang akan kamu pilih saat cintamu pergi menemui Tuhanmu? Mengikhlaskannya atau ikut dengannya?” Jane memotong kaliamt Syilan yang belum selesai.
“Aku? Aku tak pernah ditinggal cintaku, yang aku tahu Tuhan selalu punya
manusia yang bias dicinta dan mencintai, tak pernah kehabisan. Dan selalu ada
cerita cinta di dunia ini, selalu”
“Walau
pada akhirnya Tuhan juga lah yang meminta cintamu ikut dengan-Nya?”
“Aku
ngga paham dengan apa yang kamu bilang, siapa yang menemui Tuhan?”
“Cinta
pertamaku”
“Cinta
pertamamu sedang diruangan ini, kan?” Syilan
menatap isi ruangan itu lagi, kekagetannya membuyarkan segala logikanya,
dirinya terus mencari sosok yang dimaksud oleh Jane.
“Ada
pada lima tahun yang lalu, dia menunggu seorang perempuan yang menyukai tulip,
dengan kaus birunya dia duduk disana..” Kalimatnya terpenggal, tatapannya
berpindah kea rah kursi kosong itu “Tuhan memilih cinta pertamaku untuk
menemani diri-Nya untuk menjagaku dari tempat yang jauh”
“Kamu
percaya dia selalu menjagamu?”
“Percaya
, itu sebabnya Tuhan memberiku seseorang seperti suamiku saat ini, Tuhan
menggantikan sesuatu yang telah hilang dengan yang lebih indah” Air mata Jane
jatuh, tak bisa lagi ditahan dalam pelupuknya “dan Tuhan tahu cara memberikan
kenikmatan untuk makhluknya yang ikhlas melepas, Tuhan tak pernah lupa cara
membahagiakan makhluknya”
Syilan
hanya bisa diam dalam tatapannya menatap wajah Jane, Jane kembali menatap isi
cangkir yang digenggamnya, melihat peristiwa lima tahun lalu. Cinta pertamanya.
Ukie Efandari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar