“Lama banget sih milih celananya?”
tutur Rarita yang sedang duduk sambil menggenggam ponselnya
“Sorry,
elo tau sendiri gimana gue kalau belanja, ngga bisa buru-buru, Ra” sambil
melihat apa yang dibelinya, lalu di lipatya sebuah celana dan dibrikan kepada
sepupunya “Nih, lucu kan, pake deh, gue yakin cocok buat elo, sanah ke ruan
ganti” yang ditawar justru menganga
“Apaan nih Nad?” tanya Rarita bingung
masih dengan posisi duduk yang santai dengan telefon genggamnya
“Ini sarung bantal” tutur Nadya ketus,
mendadak membuat Rarita membelalakkan bola matanya, di buka lipatan celana itu
tepat di depan mata Rarita yang masih kaget “Ini celana, Ra. Lihat nih, buat
elo pasti bagus”
“Gue tahu Nadyaa, maksudnya elo nyuruh
gue pake untuk apa?” cetus Rarita yang masih enggan untuk menyentuh celana itu,
justru di belokkan lagi kepalanya ke layar ponselnya.
“Ngga buat apa-apa, gue yang beli buat
elo, buruan cobain, kalo ngga muat bisa dituker lagi” kali ini tarikkan tangan
Nadya mengagetkan Rarita dan seketika membuat Rarita berontak
“Hey Nad, apa-apaan elo ini” Rarita
mulai kesal dan berdiri “gue ngga suka celana yang warna begini, norak banget
tau, ngga deh, buat elo ajah” kembali duduk, membuat Nadya senewen setengah
mati
“Pake ngga!cepet, jangan kaya anak
kecil gitu deh” Nadya embali menarik tangan sepupunya
“Elo yang kaya anak kecil, Nad. Sampe
celana ajah gue mesti di beliin, dipilihin pulak” dengan nada yang hampir berbisik
sambil melirik sekeliling berupaya untuk tida ada yang mendengar percakapan dua
cewek yang beda pendapat ini.
“Oke!
Gue Cuma mau lihat ajah, kalo itu bagus, tetep harus di pake, kalo ngga ya
batal” tutur Nadya memperjelas “Kalo elo ngga mau, gue tinggal elo disini,
pulang naik angkutan umum sanah” ancam Nadya sambil melipat kedua tangan di
dadanya, membuat mati langkah.
“Sini” sambil mengamit sebuah celana
yang di genggam Nadya, Rarita melakukan hal yang sama, melipat kedua tangannya
dan berjalan kea rah ruang ganti dengan wajah cemberut
Di depan kaca, Rarita tak bergerak
dari posisi berdirinya, dia benar-benar ogah untuk mengenakan celana biru yang
mecolok nan kampungan pulak, di sampirkannya celana itu, tepat di samping kaca,
dia memegang ujung celana bagian bawah dan bagian pinggangnya sudah pasti tersampir
sampai ruang ganti yang ada di depannya, raung ganti itu berhadapan, hanya
berbatas sebuah tembok yang tidak
terlalu tinggi.
Rarita sengaja berlama-lama, di
raihnya ponsel dan mulai mengetik sebuah pesan singkat yang akan dikirimkan
kepada Nadya yang belum tentu sedang duduk manis menunggunya di luar ruang
ganti, bisa jadi sepupunya itu lagi muter-muter mencari lagi apa yang dia suka.
Gw gak
suka celananya. Jelek bgt, Nad. Sumpah
“Coba keluar, gue mau lihat dulu”
suara Nadya muncul tiba-tiba setelah pesan itu tak lama dikirimya. Ya Tuhaaan
ternyata Nadya bener-bener di balik pintu, keluh Rarita dalam hatinya. Seketika
membuat kepalanya menoleh ke balakang, memandang pintu . Ia tak menyadari
selagi kepalanya menoleh ke belakang, sebuah celana biru juga tersampir di
dinding ruang gantinya, tepat bersebalahan dengan kaca, juga jaraknya hanya
beberapa senti dengan celana biru yang dia sampirkan sebelumnya.
“Ra, udah belum sih?” kali ini Nadya
mencoba mengetuk pintu, membuat Rarita kalang kabut. Di letakan ponselnya di
lantai, gerakan itu di sertai dengan satu tangannya yang meraih celana biru
yang tersampir. Namun, ia salah ambil, calana biru itu bukannlah celana biru
pilihan Nadya, namun celana biru milik seorang yang sedang berada di ruang
ganti yang berhadapan dengan ruang gantinya.
“Tunggu, kancingnya agak kaku”
teriak Rarita sambil berupaya memakai
celana itu, namun tak ada sahutan dari Nadya. Rarita mengacuhkannya.
Saat celana itu benar-benar sudah
dipakainya dan terlihat jelas di cermin, Rarita kaget setengah mati. Ia tidak
percaya bahwa yang di pakainya adalah celana khusus laki-laki, sedikti agak
tebal dan longgar serta banyak kantung, berbeda dengan celana yang sering di
kenakan oleh perempuan, cenderung lebih ketat dan polos. Rarita tak sadar saat
dia setengah mati memakai celana itu, celana yang di pilih Nadya pun di ambil
oleh penghuni ruang ganti yang di depannya.
“Udah, Ra? Lama banget sih elo” terdengar samar di telinganya, suara seorang
laki-laki, membuat Rarita menepuk keningnya, wajahnya mulai pucat “Aduuh pasti
itu mas- mas yang biasa jaga, pasti banyak yang mau gantian masuk, ngga mungkin
gue keluar kaya gini, ngga bisa di lepas juga, bisa ngamuk nanti Nadya, makin
memperlambat waktu, lagian Nadya bisa-bisanya milih celana kaya gini, tapi
kayaknya celana ini berubah wujud deh, tadi ngga kaya gini” Rarita berbicara di
depan cermin sambil memandang celana itu dengan wajah kesal.
Pasrah sudah diriya, harus berapa lama
berada dalam ruang sempit ini. Di luar pasti ada Nadya, kalau dia mau lihat
tarik ajah dia ke dalam. Akhirnya pintu di bukanya.
“Nad, masa celananya jadi begini”
tutur Rarita setelah pintu terbuka, kepalanya tertunduk memegangi celana biru
yang tak ada bentuknya bagi seorang Rarita
“Itu celana gue” sebuah suara yang
nyaris teriak mengagetkan dan seketika mengangkat wajah. Di lihatnya seorang
laki-laki yang berjalan ke arahnya, Rarita menatap laki-laki itu dengan diam.
Diam yang terpesona. Laki-laki itu sesaat menatap matanya, laki-laki yag
sederhana namun sungguh manis
“Ini?” tanya Rarita yang masih menatap
laki-laki itu, namun laki-laki itu menatap celana biru nya
“Iya ini punya ague. Guys, ini celana
gue, berarti gue ngga salah ngambil” laki-laki itu berbicara kepada temannya,
lalu seorang temannya menghampiri mereka dengan seksama mamerhatikan celana
biru itu.
“Terus celana gue?” tanyanya bingung
“Celana elo? Oh ada” seorang temannya
berlari ke tempat dimana mereka menaaruh tas nya, lalu dibawa lagi langkahnya
ke arah mereka yang sedang kebingungan “Ini bukan?”
“Iya itu punya gue”
“Yang itu bisa di buka?” laki-laki itu
bertanya dengan sedikit senyuman, membuat Rarita untuk juga membalasnya bahkan
lebih manis. Mereka mengikuti Rarita yang masuk ke dalam melalui tatapan,
sampai tubuh Rarita menghilang ke dalam ruang ganti.
“Masa gue pake celana begini, liat
ajah” kalimat itu membuat temannya tertawa geli
“Model masa kini”, lalu kedua
sama-sama menutup mulut ketika mndegar handel pintu dibuka dari dalam
“Nih celananya” tutur Rarita
“Nih celana elo, makasih ya” laki-lai
itu tersenyum “celana pilihannya bagus, suka biru juga?”
“He eh” sahut Rarita berbohong,
seorang Rarita mana mungkin suka warna yang terlihat norak dimatanya. Dia
menjawab hanya ingin membahagiakan laki-laki yang ada di depan matanya
“Lain kali jangan sampe ketuker gitu,
Ra” tutur temannya
“Oke”
kedua nya jawab bersamaan, lalu saling pandang, saat itulah Rarita merasakan
debaran jantungnya yang seakan tak mau mengalah oleh tatapan mata laki-laki
itu.
“Sorry
sorry, gue kira yang dimaksug itu gue” senyum Rarita, malu juga pahit,
laludibawa langkahnya pergi meninggalkan dua pria itu, sesaat kemudian..
“Gue Ramon, nama elo siapa?” laki-laki
itu menahan langkah Rarita untuk bertahan lebih lama, Rarita menoleh dalam
kebingungan juga rasa malu.
“Gue?” tanya nya sambil menunjuk
dadanya “Rarita” dengan sedikit seyum mungkin mampu menghilangkan kegugupan,
namun tak kunjung mau mengalah “Gue duluan ya”
“Nama elo bagus, tapi elo ngga bagus,
elo polos, kaya ketemu hantu ajah sorot matanya begitu” ya ampun kenapa bisa
laki-laki ini tahu perasaan hati gue, desisnya dalam hati “Hati-hati di jalan
ya” laki-laki itu melambaikan tangannya, seketika membuat jantung Rarita naik
turun, Rarita memutuskan untuk pergi secepatnya, tak bisa menatap laki-laki itu
lebih lama, makin lemah akan senyumnya.
Rarita berjalan menuju pintu keluar toko
dengan langkah yang seperti melayang, dengan seyum di bibir, juga celana yang
di peluknya dalam dadanya.
“Ra” suara Nadya muncul dari belakang,
Rarita menoleh dengan tawa di pipi
“Mau kemana? Cocok ngga? Gue lupa
gara-gara liat tas baru disana, yuk ke ruang ganti lagi, kalo...”
“Gue suka banget, Nad. Thanks yah” Rarita memotong kalimat kali
ini seyumnya si sertai satu pelukan di tubuh Nadya
“Tapi gue belum liat tadi, gue
penasaran ...”
“Dirumah ajah nanti, elo ngga usah
bayar, biar gue ajah” Rarita berjalan menuju kasir, sesaat kemudian wajahnya
menoleh “Warna biru itu keren, thanks banget
deh” di balikkan lagi tubuhnya, di bawa lagi langkahnya menuju kasir.
Nadya berdiri mematung menatap
sepupunya yang “warna biru norak” menjadi “warna biru keren”. Aneh.
Ukie
Efandari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar